Sekelumit Cerita Sebelum ke Australia

Kingsford international airport, tepat setahun yang lalu.

Kuhirup udara pagi itu dalam-dalam, sejuk dan terasa segar. Sempat kulirik layar HP yang menunjukkan waktu pukul 3 dini hari, padahal jam besar yang berjarak beberapa meter dari tempat saya berdiri menunjuk angka 6 yang kelebihan 20 menit. Baru beberapa langkah setelah keluar melewati pintu otomatis, hawa dingin sekonyong-konyong menyerang tubuh mungil saya yang hanya dilapisi jaket winter ala kadarnya. Rupanya, perlu waktu puluhan menit untuk berhasil menyadarkan bahwa saya baru saja mengalami penerbangan 7 jam, lintas negara, lintas benua.

Setelah keluar dari bagian imigrasi, tidak sulit untuk menemukan Gareth yang membawa papan bertuliskan “Yaqin, UIN Jakarta”. Dia berdiri mematung di barisan para penjemput. Ketika saya berdiri di depannya, dia langsung memberikan sambutan hangatnya, “Are you Yaqin from Jakarta? I am Gareth, welcome to Australia!”. Tanpa diberi kesempatan untuk istirahat sejenak di bandara atau sekedar membeli kartu SIM, saya berjalan cepat  di belakangnya tanpa perintah. Saat itu saya menenteng tas ransel Zeintin sambil menarik koper seberat ± 15 kg menuju parkiran mobil. Dengan kecepatan 80 km/jam, perlahan saya menjauhi area bandara, pandangan di depan hanya menyajikan jalan tol yang kosong dengan signs yang namanya masih sangat asing bagi saya. Sisi kanan mobil menawarkan pemandangan yang lebih menarik, terlihat dari kejauhan gedung-gedung pencakar langit bermandikan cahaya matahari. Sepanjang perjalanan, Gareth banyak bercerita soal usahanya untuk bangun sangat pagi supaya tidak telat menjemput saya, pengalamannya yang dulu pernah menabrak kanguru hidup-hidup di jalan tol, hingga memamerkan kemampuan polyglot-nya. Saya yang masih jetlag hanya  menanggapi cerita seperlunya saja. Saat itu, raga saya sudah di Sydney tapi entah kenapa pikiran saya masih dipenuhi berbagai pertanyaan yang jumlahnya tidak terhitung.

beberapa minggu sebelum penerbangan

Saya tatap wajah ibu dengan dalam, tampak sepasang bola matanya menahan sesuatu yang biasa disebut air mata. Saya tak tahu pasti, mungkin sedih karena akan ditinggal pergi bujang nomor 2 nya atau karena keheranan mengapa dirinya bisa berada di acara seremonial ini. Pagi itu, para calon mahasiswa yang akan berangkat ke Sydney dikumpulkan bersama orang tua walinya di ruangan yang sama saat dulu kita menjalani ujian bahasa inggris. Acara tersebut mengenalkan kepada orangtua wali mengenai apa itu student exchange dan apa yang akan dilakukan anaknya beberapa bulan mendatang. Hal ini sekaligus simbolis pelepasan mahasiswa terpilih yang akan berangkat meninggalkan Indonesia minggu depan. Pihak rektorat, pengurus international office hingga jajaran dekanat fakultas turut hadir dalam acara ini, melepas penuh harap akan keberhasilan mahasiswa pilihan mereka untuk belajar di negara lain, benua lain. Suasana haru seperti ini bukan pertama kalinya saya rasakan, 2 minggu sebelumnya, tepatnya saat-saat lebaran, hal yang sama menyeruak dalam diri saya. Apakah menjalani program ini adalah jalan terbaik yang Tuhan berikan?

Momen lebaran kali ini terasa spesial dan beda, senyum sumringah harus terpancar dari diri saya. Kata-kata Australia, Sydney, exchange, mendominasi percakapan saya dengan setiap orang yang ditemui, khususnya setelah bapak saya yang selalu memulai silaturahmi lebaran dengan kata, “mohon doanya yaa pak haji, bu ini, mas itu, anak saya insya Allah abis lebaran ini mau berangkat sekolah lagi ke Australia”, saya yang memang berada disitu otomatis mendapat perhatian ‘lebih’. Di momen seperti itu saya merasakan bias antara memohon doa atau bercerita dengan bangga haha.

Rentetan silaturahmi hanya bertahan 2 hari lebaran saja, penyakit yang di derita bapak kumat, memaksa kami untuk tinggal di RS Hermina. Saat keadaan buruk menimpa keluarga kami, saya sempat berpikir untuk membatalkan keberangkatan padahal saat itu saya belum pasti bisa berangkat karena visa yang tak kunjung issued. Setelah hampir 1 minggu di rawat di RS, akhirnya bapak di.perbolehkan pulang ke rumah, tepat 1 minggu sebelum tanggal 26 Agustus, jadwal keberangkatan kami ke Sydney.

Hari berlalu cepat, Minggu tanggal 26 Agustu tiba, pihak kampus UIN jakarta melepas mahasiswanya untuk berangkat ke Australia, tentu tidak ada saya disana dikarenakan visa yang masih belum juga keluar, padahal hari sebelumnya saya sudah sempat ke kantor UIN sambil menenteng koper yang berat dengan harapan agar tetap berangkat bersama peserta yang lain. Apalah daya, setelah lewat hari minggu itu,  saya memasuki masa kritis dan momen penuh ketidakpastian yang tidak menyenangkan. Batal berangkat ke Australia karena kendala visa adalah sesuatu yang tidak bisa saya terima, sedih rasanya. Setelah hari Minggu itu, pihak UIN memberikan tenggang waktu semingggu lagi, dengan harapan visa saya segera keluar dan tetap bisa berangkat ke Australia.

Jadi lah saya memasuki hari-hari penuh ketidakpastian dan dilanda harap cemas. Sejak senin tgl 27 agustus itu, tak henti saya WA mbak Lita dr pihak representatif kampus dan mbak Agnez dari pihak yang mengurus visa kami. Bang Beki dari international office pun tak luput dari chat saya. Spekulasi yang sempat muncul adalah, isu agama dan nama paspor yang menyebabkan visa saya tak kunjung keluar, hal yang saya yakini juga saat itu, logikanya adalah saya, M Ihsan, Bella dan Amanda, kami semua membuat visa bersama, bahkan cek kesehatannya pun bareng kemudia visa Bella dan Manda keluar seminggu setelahnya, yakni sebelum lebaran sementara saya dan M Ihsan tak kunjung dapat kabar soal visa.

Senin, selasa, rabu telah dilewati tanpa menemui titik terang soal kapan visa akan keluar, pagi-siang-malam pikiran saya engga jauh dari mencemaskan soal nasib ini, bahkan tiap malam sampai terbawa mimpi. Setelah itu badan saya sudah mulai drop karena stres dan terganggu fikirannya, hari kamis saya mulai terbaring lemas di rumah, masih rutin memikirkan kejelasan soal pertukaran, tak terhitung jumlah chat saya dengan mbak Agnes, ‘mbak, ada kabar soal visa saya mbak?’, ‘mbak, visanya udh keluar belom mbak?’ dan pertanyaan sejenis yang intinya menanyakan soal visa, jawaban mbak Agnez pun selalu sama ‘belum ada yaqin, nnt pasti mbak  kabarin koq kalo ada perkembangan’. Kamis pun berlalu, badan saya semakin sakit tak karuan. Hari jumat datang, memberikan harapan terakhir perjalanan student exchange saya yang terancam batal, hal ini dikarenakan dari pihak UWS memberikan ultimatum bahwa jika sampai jumat ini visa tidak keluar, maka saya tidak jadi berangkat karena perkuliahan di australia akan memasuki minggu ke 3 dan saya telat mengikuti pelajaran. Dengan asumsi bahwa kantor imigrasi hanya bekerja sampai hari jumat, praktis hanya tersisa satu hari terakhir, saya sangat berharap banyak hari jumat itu visa saya akan keluar, lewat dari hari jumat maka saya tidak tahu bagaimana psikologis saya kedepannya.

TGIF yang sangat saya harapkan tidak muncul, waktu masih magrib di Indonesia namun sudah malam di Australia sana, menurut mbak Agnez belum ada kabar dari imigarsi di aus, sudah pasti visa saya tidak.akan issued hari sabtu atau minggu. Seketika pintu untuk ke Sydney serasa sudah tertutup, kecewa, kesal, sedih itu pasti sempat saya bergumam ‘apakah ini benar krn nama Muhammad?’ saya heran sendiri. Setelah sempat mengabaikan kegiatan KKN bahkan melewatkan acara pelepasan yang dilaksanakan jumat kmrn, saya kembali menata diri untuk siap turun ke Barengkok, Bogor menyusul kelompok Greget yg sudah lebih dulu tiba disana.

Sudah diduga, sabtu dan minggu tidak akan ada kabar mengenai visa, dengan berat hati saya membongkar muatan di koper besar dan mulai packing untuk ke tempat kkn. Sampai sini belum ada kabar lebih lanjut dr pihak UIN mengenai pembatalan keberangkatam saya.

Sementara di grup WA calon penerima student exchange, beberapa foto diupload oleh mereka yg sudah tiba di Australia. Perasaan senang sekaligus envy campur aduk, hati saya berkata ‘harusnya gue juga disitu!’.

Hari senin datang, walaupun belum pulih dari sakit, saya memutuskan untuk berangkat ke tpt KKN sore itu, sudah janjian dengan tmn kelompok utk berangkat bareng dari UIN. Hingga akhirnya sekitar jam 1 saya menerima telpon dari bang Beky pihak UIN. Saya ingat betul, tanpa basa basi bang Beky langsung berucap, “Yaqin, visa kamu sudah keluar, segera berangkat skrg” “sudah jangan melamun, kemasi barang skrg, kamu brgkt malam ini juga, kalo ga siap, kamu batal berangkat”.

Mendapati info bahwa visa saya keluar siang itu, rasanya beneran nano-nano, bang beki seperti membaca pikiran saya yg sedang melamun dan ragu untuk berangkat hari itu juga, tapi mendengar ‘ancaman’ dari nya, itu lebih mengerikan hahaha.

Selepas menerima telpon dr bang beki, seketika rumah saya langsung heboh, saya yang sebelumnya sakit dan lemas, tiba tiba langsung sehat segar dan bugar hahaha. Bahkan beberapa kali bapak dan ibu menanyakan kesiapan saya utk.berangkat saat itu juga, krn mereka khawatir saya akan menjalani perjalanan yg jauh dalam kondisi sakit. Setelah berhasil meyakinkan mereka, saya diburu waktu untuk.berkemas. jadilah saya bongkar kembali tas utk kkn dan memindahkan sebagian barang ke koper. Kegiatan packing tidak menyita banyak waktu, ada hal lain yang butuh banyak waktu: berangkat ke airport. Saat itu sudah masuk waktu ashar, dan saya diberitahu bahwa penerbangan jam 8 malam. Untuk efisiensi.waktu, mengingat hari.itu hari senin.dan jam pulang kantor, saya memutuskan untuk langsung saja ke airport dan pihak uin menyusul juga ke airport. Setelah pamit sama encang-encing jadilah sore itu menumpang taksi menuju.bandara, sampai di.bandara menjelang magrib dan utusan dr UIn belum datang juga, fyi saya di airport cuma modal koper saja, belum.pegang tiket pesawat dan AUS $, nekat banget ya, bahkan saya sempat berpikir, ini.kalo batal berangkat hari ini malu atuh ya..hahaha

Drama ala ala sinetron tidak terjadi, selepas magrib, Abib dan ka Indah sdh tiba di bandara. Urusan administrasi dengan mereka selesai. Berhubung 1 jam lagi pesawat akan lepas landas.akhirnya saya harus mengucapkan salam perpisahan kepada mereka. Pelukan terkahir dengan ibu, berhasil membasahi mata kami.berdua. setelah melewati imigrasi, saya masuk ke.ruang tunggu , terlihat jelas body pesawat bertuliskan Qantas. Penerbangan kali itu seperti membawa saya ke.lorong lorong waktu, rasanya takdir saya dijungkir balikkan dgn cepat, kemarin pintu exchange seperti sudah tertutup, tapi skrg saya sdg menjalani impian itu.

Akhirnya saya Tiba di Kingsford Intl airport, detik itu, saya menyadari, saya akan menjalani  4 bulan kedepan sendiri, sanggupkah?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s