Matahari di Ujung Barat

Malam minggu kemarin (16/1), gue ‘kabur’ dari Ciputat yang sudah mulai kosong ditinggal libur mahasiswanya. Sudah memang jadwalnya kampus UIN Jakarta sepi di bulan Januari – Februari. Bersama 14 9 orang lainnya, kami bergerak ke arah barat daratan pulau Jawa. Mudah ditebak, daerah Banten ujung menjadi destinasi kami, bukan Carita bukan juga Anyer melainkan Tanjung Lesung. Itu lho, tempat wisata yang katanya sedang gencar berbenah karena kedatangan investor yang yakin akan potensi wisata di Tj.Lesung bakal menyamai Bali.

Diangkut oleh dua mobil, kita berangkat dari parkiran Triguna menjelang pukul 3 sore. Karena satu dan yang lain hal, mobil pertama berisikan lima orang berangkat duluan menuju daerah Serang. Sementara mobil satu lagi, mobil yang gue tumpangi menyusul kemudian. Alasan kami berangkat belakangan adalah menunggu Irfan yang belom beres dari kerjaannya. Memang, diantara kita berempat (Imad, Dhiya, Yasir dan gue), tidak ada satupun yang merupakan fotografer profesional bahkan setau gue kita engga ada yang punya DSLR haha. Lagi pula, kurang afdal rasanya jika jalan-jalan tanpa dokumentasi yang mumpuni, maka kuatlah alasan kami untuk menunggu Irfan ini. Selain alasan yang sudah pasti Irfan mafhum, keberadaannya bikin suasana makin rame dan tentunya mengurangi beban bensin kita berempat wkwk. Saat kami menunggu di daerah Cinere dekat rumahnya, sampai lah pesan whatsapp yang dikirimkan Irfan yang isinya kalo dia tidak bisa ikut karena masih ada urusan kerjaan. Yaah sedih sih, tapi tak apa, pertunjukan harus tetap berjalan (the show must go on) jadilah kita memutuskan untuk tetap berangkat walau tanpa hasil jepretan Irfan. Pokoknya, kita masih hutang satu perjalanan sama lu ya Fan. Disinari matahari sore, Datsun abu-abu kami meluncur cepat di jalan tol Jakarta – Merak, melesat dan tiba-tiba membawa kerinduan gue akan suasana sore hari di Circular Quay.

Selama dua jam, kita sampai di rest area  km 43 yang merupakan meeting point kami dengan mobil pertama, disana rombongan Acil dkk sudah kebosanan menunggu kami. Setelah istirahat sebentar untuk sholat maghrib – isya, kami ber-9 melanjutkan sisa perjalanan dari Serang menuju Tanjung Tum yang diperkirakan akan menyita waktu 2 jam juga. Berhubung sudah malam, tidak banyak pemandangan yang bisa dinikmati sepanjang jalan ditambah masih minimnya penerangan di beberapa ruas jalan. Yang bisa kami lihat hanyalah lampu-lampu kendaraan berwarna merah dan kuning menyala di depan kami. Pinggir jalan pun hanya disesaki rumah-rumah warga atau warung-warung pinggir jalan, sepengamatan gue tidak banyak warga yang beraktifitas malam itu. Kami terus bergerak ke arah selatan, dimana landscape perumahan berganti dengan berbagai kawasan industri, banyak sekali pabrik yang namanya belum pernah kami kenal dilewati begitu saja. Sekilas kawasan ini mirip dengan kawasan industri di daerah Bekasi. Dari kejauhan, tampak satu dua truk besar keluar dari dalam pabrik. Ada satu pabrik yang berhasil menyita perhatian kami. Dari jarak yang masih jauh, terlihat langit menyala oranye namun dalam lingkup yang tidak luas. Nyala yang ditimbulkan ini khas sekali milik api, selain kebakaran kami menduga ada aktifitas lain yang terjadi disana. Nyala api semakin menjadi-jadi ketika kami melewati sebuah pabrik petrokimia, rupanya memang betul terdapat api berkobar hebat yang keluar dari cerobong yang sangat besar, api yang besar ini mampu menjangkau cahayanya hingga jarak jauh. Kami lega bahwa itu bukan sebuah kebakaran melainkan aktifitas pabrik yang gue duga sedang produksi di malam hari.

Mendekati jam 10 malam, akhirnya kami sampai di Tanjung Tum, tempat kami akan berkemah malam itu. Belakangan gue dan semobil cukup menyesal memilih tempat itu untuk bermalam, karena harga yang dipatok untuk satu mobil mahal! 50 ribu untuk sebuah tanah kosong pinggir pantai. Memang gue sendiri belum sempat survey di google mengenai lokasi yang memungkinkan untuk berkemah. Yah sudahlah, terlepas dari itu kami bergegas mendirikan dua buah tenda agar suasana liburan lebih dekat dengan alam. Sebenarnya sih alasan utama memakai tenda karena untuk menekan abis-abisan biaya akomodasi, lumayan kan engga keluar duit 50-100 rb seorang cuma buat tidur ajah haha. Ditambah lagi dua buah tenda yang kita gunakan adalah hasil gerilya nanya kenalan sana sini, sampai akhirnya kita dapet pinjeman tenda. Makasih abang-abang yang udah pinjemin tenda J . Tidak butuh waktu lama sampai tenda siap dipakai, kami langsung membongkar perbekalan berupa ayam yang sudah di ungkep lengkap dengan arang dan panggangannya. Jadilah saat itu kita semua manggang ayam + sosis untuk makan malam. Namanya lagi lapar, makan apa aja pasti enak, apalagi makanan yang emang dasar enak kaya ayam panggang. Urusan perut kelar dan badan sudah pegal digerus perjalanan 4 jam menghasilkan rasa kantuk yang teramat. Masing masing dari kami memilih tempat terbaiknya untuk tidur, ada yang di tenda, di dalam mobil dan di tikar depan tenda, gue memilih tidur di dalam tenda. Alam memang luar biasa, deburan ombak sepanjang malam berhasil menjadi pengantar tidur yang nyenyak kala itu.

20160117_055023 (FILEminimizer)

Satu yang sayang sekali terlewatkan saat liburan adalah momen bangun pagi! Kalo biasanya di rumah atau di kosan habis subuh lanjut tidur lagi maka hal itu haram dilakukan saat sedang jalan-jalan. Masa iya sudah pergi jauh cuma buat pindahin tempat tidur? Ditambah lagi, momen pagi hari itu menyenangkan, jika tidak mendapatkan sunrise yang eksotis (seperti di mahameru :p) tidak ada salahnya menikmati udara segar pagi hari, itu tuh bikin pikiran seger banget. Persis depan tenda tersaji pemandangan laut lepas, juga nampak dari kejauhan kapal-kapal yang sedang berlayar di selat Sunda. Bayangan hitam yang sangat besar jelas terlihat dari arah laut, rupanya itu adalah pulau Sangiang, entah apakah ada peradaban di pulau itu gue engga tahu. Sebenarnya Tanjung Tum bukanlah destinasi utama rombongan Ciputat ini melainkan Tanjung Lesung. Terdamparnya kita di Tanjung Tum karena semalam kita harus segera mencari tempat bertenda dan Tanjung Lesung bukanlah tempat yang memungkinkan untuk kita datangi tengah malam. Belum sempat mandi  sarapan pagi, kami langsung meluncur dari Tanjung Tum ke Tanjung Lesung. Berkendara menyusuri jalan raya Anyer, kami disuguhkan pemandangan pantai dan laut di sebelah kanan jalan dan hijaunya persawahan di sisi kiri jalan. Beberapa lokasi pantai yang sudah cukup dikenal kami lewati begitu saja diantaranya pantai Anyer dan pantai Carita. Sempat berhenti untuk sarapan di warung makan Tegal, kami sampai di lokasi wisata Tanjung Lesung sekitar pukul 10 pagi. Sampai di kawasan wisata ini kekonyolan kami dimulai.

Boleh dibilang Tanjung Lesung merupakan kawasan wisata terpadu yang sudah dikelola pihak swasta. Hal ini tercermin dari harga tiket masuk wisata pantainya (Tanjung Lesung Beach Club) yang tidak ramah bagi kami mahasiswa. Bayangkan, diakhir pekan perorang dipatok harga 40 ribu hanya untuk bermain dipantai dan melihat dermaga. Tidak ingin membuang percuma uang tersebut, rombongan mobil pertama dan mobil gue terpisah. Mereka rela merogoh dompet dalam-dalam, sedangkan kami sisanya mencari alternatif pantai lain. Sebelumnya gue sempat googling dan menemukan ada pantai gratis-an di kawasan Tanjung Lesung, begitu sampai dilokasi, pantai Bodur yang kami tuju rupanya ditutup untuk umum karena alasan yang tidak jelas. Tau aja ya giliran ada pantai gratis-an eh malah ditutup haha. Tidak mau ambil pusing, Imad yang membawa mobil berinisiatif untuk coba keliling kawasan tersebut dan seketika tergoda lah kita untuk masuk area resort/villa. Kami masuk kawasan resort begitu saja tanpa ada pemeriksaan dari satpam hingga akhirnya berhasil menepikan mobil di depan sebuah villa. Rumah yang disewakan itu telihat sepi tak berpenghuni, beberapa rumah lainnya sudah ada yang menempati, terlihat dari parkiran mobilnya yang penuh berisi. Riuh rendah suara ombak terdengar dari halaman belakang villa kosong, benar saja, sepelemparan batu dari tempat kami parkir sudah terhampar laut lepas lengkap dengan pantainya yang bening. Luar biasa akhirnya kami bisa masuk ke pantai juga.

20160117_094036 (FILEminimizer)

Kami yang sudah lama kekurangan vitamin sea langsung mengambil posisi untuk nyebur ke laut. Papan bertuliskan do not swim tidak kami indahkan keberadannya karena kami melihat sudah banyak orang sedang berenang. Sepengamatan gue, pantai Tanjung Lesung boleh dibilang cukup bersih. Pasir putihnya masih terhampar tidak luas, tepi airnya masih sangat jernih yang dilanjutkan dengan gradasi warna hijau tosca hingga kebiruan sukses memanjakan mata gue. Tanpa aba-aba, masing-masing dari kami sudah menenggelamkan diri di perairan selat sunda tersebut, sayangnya kesenangan kami berenang sangat terganggu dengan banyaknya batu karang yang membuat kaki kami harus cermat melangkah. Lengah sedikit bisa bisa gue kaki berdarah karena menginjak bebatuan yang lancip itu. Keberadaan kami di dalam air tidak berlangsung lama, hal ini karena kami ingin mencari pantai lain yang bebas dari karang. Berjalanlah gue, Imad, Yasir dan Dhiya menyusuri jalan setapak kawasan villa tersebut. Berharap menemukan spot untuk berenang, kami malah bertemu rombongan mobil pertama yang sedang asyik berfoto di dermaga.

Hari semakin siang, matahari semakin meninggi diiringi naiknya suhu udara jam 12 siang, bukan waktu yang tepat untuk berenang. Istirahat adalah saat yang tepat, semilir angin pantai berhasil menidurkan kami di sebuah bangku besar yang memang sengaja dicptakan khusus untuk bersantai. Deburan ombak menambah khidmat suasana. Tanpa obrolan, kami terlelap di bawah pepohonan rindang sekitar. Dibangunkan oleh Acil dkk dari mobil pertama yang pamit akan pulang siang itu juga, rombongan mobil Imad memutuskan untuk tetap singgah hingga dapat momen matahari terbenam. Kalo kata Imad sih, “Rugi udah jauh-jauh dari Jakarta, bayar mahal buat masuk Beach Club tapi cuma nikmatin 3-4 jam doang”. Benar juga sih, apa yang dikatakan Imad kita amini bersama hahaa.

20160117_163330 (FILEminimizer)

Agenda siang itu kami lanjutkan untuk mandi, solat Zuhur dan cari makan siang. Salah satu masjid menjadi tempat singgah kami untuk 2 kebutuhan sekaligus, mandi dan sholat (plus nge-charge hape). Sedangkan makan siang kami berlangsung di sebuah tempat bakso, ditebus dengan harga 10 ribu masing-masing dari kami lahap menikmati semangkuk bakso yang tak lupa kami tambahkan perbekalan nasi yang masih tersedia. Setelah makan siang kami tergoda untuk mendatangi pantai selain Tanjung Lesung, bapak tukang bakso dengan baik hati menyarankan kami untuk ke pantai Umang sebelum nyebrang pulau Umang. Berbekal keyakinan akan informasi dari tukang bakso itu kami nekat ke pantai yang dimaksud. Tidak adanya papan petunjuk jalan akan seberapa jauh lokasi Umang memaksa kami mengurungkan niat. Setelah berkendara lebih dari setengah jam kami berhenti di tengah perjalanan yang pada akhirnya kami tahu bahwa jarak yang harus ditempuh masih 30 km lagi, pelajaran nomor 1 percaya dengan waze/google maps, bukan feeling tukang bakso!

IMG-20160118-WA0002 (FILEminimizer)

Pada akhirnya kami malah kembali ke Tanjung Lesung untuk menghabiskan sisa sore itu dan berharap menjumpai matahari terbenam dari ujung barat pulau Jawa. Gue yang tidak kuat menahan godaan air laut sore itu memutuskan untuk menyeburkan diri lagi sambil terus memandangi ufuk barat yang sudah mulai redup sinar mataharinya. Namun takdir berkehendak lain, tidak sampai setengah jam sebelum sunset tiba, angin dari arah timur membawa masuk awan hitam yang kemudian menurunkan hujan deras kala itu. Praktis, matahari tertutup awan tebal sehingga tidak ada sunset untuk kami. Tak ambil pusing soal sunset, gue, Imad dan Dhiya malah lanjut main hujan-hujanan sambil mengingat-ingat “kapan ya terakhir kalinya gue main ujan-ujanan kaya gini?”.

Pukul satu dini hari kami tiba di Ciputat dengan kondisi badan yang sudah mau rontok. Tidurnya kami di kosan Hanif malam itu mengakhiri perjalanan kita dari Tanjung Lesung yang bagi gue sendiri ini adalah kali ke empat gue bersilaturahmi ke daerah Banten non Tangerang selama jadi mahasiswa. Jika sempat, gue akan menuliskan momen pertama gue ke daerah Serang tepatnya di Kragilan untuk main ke rumah Silam dimana WC adalah barang langka dan mewah. Kesempatan kedua terjadi ketika gue singgah di rumah bang Umar di pelosok Rangkas Bitung yang katanya dekat dengan kawasan Baduy luar. Momen ketiga ini yang paling konyol dimana gue, bang Aden, Darwin dan bang Umar memisahkan diri (alias kabur) dari rombongan acara organisasi setibanya kami di villa daerah Anyer haha. Apapun momennya, pokoknya mah Banten meninggalkan memori yang indah buat gue dan insya Allah akan terus gue jelajah. Ditambah lagi, gue masih belum kesampean untuk berkunjung ke taman nasional Ujung Kulonnya yang terkenal akan spesies endemiknya itu –badak bercula satu-.

mtf_wNJxW_325.jpg (FILEminimizer)

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s