Lika liku pemberkasan

Berawal dari status facebook seorang kawan yang tidak lain dan tidak bukan adalah temen sekosan sendiri, saya jadi kepo sama program yang ditawarkan oleh International Office UIN Jakarta. Tidak berselang lama, tepatnya tanggal 16 Juni 2015 tiba-tiba ada jarkoman tanpa sumber yang isinya merujuk ke portal uinjkt.ac.id. Penasaran sama isinya, dibukalah link itu dan ternyata isinya adalah *jreng jreng* informasi program sandwich ke Australia yang fully funded dari kampus tercintah :*. Lebih shocknya lagi, deadline pemberkasannya udah sangat deket hanya tersisa beberapa hari lagi. Hasilnya saya langsung panik menyiapkan berkas yang belum ada. Sebelum sibuk dengan pemberkasan saya ikut menyebarkan informasi itu ke grup wa lainnya dengan harapan ada yang bisa diajak bareng, hasilnya ada satu temen kelas namanya Mute dia minat untuk ikut *yeaay* dan bersama Mute saya melalui pahit-pahitnya momen seleksi program ini *big hug buat Mute*.

Begitu fix niat mau ikut, saya juga coba ajak temen kosan dimana informasi itu berasal namun sayang dia belum bisa ikut. Tidak mau mengulur waktu, saya langsung kejar surat keterangan sehat hari itu juga. Bikin suratnya di RS UIN, bikinnya pas malem hari pula hehehe untungnya berobat di UIN gratis karena sudah ditanggung uang semesteran *makasih UIN*. Rupanya, surat keterangan sehat itu adalah hal ecek-ecek yang tidak berhadapan sama birokrasi. Masih banyak surat-surat lainnya yang harus disiapkan. Besok paginya saya langsung ke bagian akademik fakultas untuk bikin surat keterangan aktif kuliah. Berkaca dari pengalaman yang sudah sudah, biasanya pembuatan surat ini memakan waktu sampai seminggu padahal deadline berkasnya tinggal tiga hari lagi, jadilah saya harap-harap cemas soal surat itu. Alternatifnya kalau sampai surat itu belum jadi, saya berencana pakai surat keterangan waktu mau PKL dulu, aneh sih tapi pikir saya yaa gapapa lah, kan sama sama menyatakan kalau saya adalah mahasiswa aktif. Pada akhirnya sih surat itu jadi pas hari Jumat, alhamdulillah ternyata dimudahkan urusannya. Selembar kertas berikutnya yang dikejar adalah surat rekomendasi, ini penting, vital perannya. Waktu itu pilihannya adalah rekomendasi dari prodi atau dari dekan, berhubung waktunya sangat mepet makanya saya memilih untuk berurusan dengan prodi kimia. Setelah bertemu dan salim dengan ibu Yus, saya langsung meminta kesediaan beliau untuk membuatkan surat rekomendasi. Yang tidak saya sangka adalah ibu Yus langsung membuatkan surat rekomendasi hari itu juga, lengkap dengan tanda tangan dan cap fakultas *alhamdulillah, terima kasih bu Yus J *. Padahal saya tahu beliau sedang sibuk dengan urusan program studi, belum lagi banyak kakak kelas yang antri untuk urusan bimbingan atau wisuda. Berkas selebihnya adalah CV, isi formulir, skor TOEFL, transkip nilai sama paspor. Tepat tanggal 19 Juni 2015, berkas saya dan Mute akhirnya masuk deh tuh ke IO. Dengan harap-harap cemas, kita dikabari bahwa tahapan selanjutnya adalah wawancara tapi itu setelah lebaran.

Tanggal 28 Juni tiba-tiba ada sms masuk yang mengabarkan akan ada briefing mengenai program tersebut pada esok hari. Berhubung memang tanggal 29 masih ada jadwal UAS saya menyempatkan diri untuk menghadiri acara itu. Ternyata oh ternyata saat itu juga kita diminta untuk siap-siap berangkat ke ausie akhir bulan Juli! Shock melanda, semuanya pasti akan sangat cepat mengingat waktu tersisa hanya beberapa minggu saja. Dari pihak University of Western Sydney datang ke UIN Jakarta dan menceritakan detail program yang akan dijalani, setelah menyimak pemaparan dari mereka sampailah pada tahapan dimana kita harus memilih mata kuliah yang akan diambil. Perasaan saya runtuh begtiu tahu fakultas kimia disana tidak termasuk program ini, fikir saya saat itu ya sudah, pintu untuk peluang exchange ini tertutup. Sedih rasanya kawan namun beruntung saya ditemani Mute, ternyata dia ini cewe yang cukup strong dan pantang menyerah *makasih banyak Mute*. Akhirnya kita berdua menanyakan alternatif mengenai mata kuliah yang harus kita ambil. Cahaya itu muncul ketika rupanya saya bisa mengambil subject di fakultas teknik tapi ya itu harus yang ada kaitannya sama kimia, hasilnya saya condong untuk memilih jurusan civil engineering. Namun semuanya tidak mudah kawan, saya harus mendapat persetujuan dekan hari itu juga mengenai subject yang saya ambil, saat itu terbayang pikiran saya bahwa dekan tidak bisa ditemui, dekan sedang pergi keluar, saya harus membuat janji berhari-hari untuk menemui dekan dan segala kemungkinan kendala yang muncul. Siang itu juga, saya dan Mute ke ruang dekan dan benar, dekan FST sedang ada rapat di ruangannya dan saya tidak tahu selesainya kapan. Setelah menunggu untuk waktu yang lama saya memilih keluar dari ruang tunggu dekan dan kembali ke gedung rektorat, tempat briefing program ISE. Sampai di rektorat, rupanya saya ketinggalan banyak informasi mengenai pembuatan visa dan tes IELTS. Yap, kaget adalah ketika lu tahu bahwa harus ambil IELTS hari sabtu itu juga (Cuma ada waktu 5 hari) dengan skor tertentu yang diminta. Itu adalah sesautau yang sangat amat menohok bagi saya, karena sepengalamn saya untuk mendapatkan skor IELTS diatas 6 itu bukan perkara mudah, butuh latihan yang lama, teman saya saja rela sampai ikut kelas preparation 2 minggu. Lah ini, saya harus otodidak belajar IELTS, 5 hari pula, tegang luar biasa kawan. Belum lagi kebayang akan keluar uang 195 $ buat bayar tesnya, uang segitu bukan nominal yang kecil kawan L sudah hopeless lagi saya. Tapi saya dan Mute akhirnya tetep keukeuh untuk coba ikutin dulu prosesnya, barangkali ada kemudahan kemudahan kedepannya. Bukannya kemudahan yang saya dapat, berita  mencengangkan justru datang lagi ditempat itu. Kita semua harus wawancara besok pagi dan pakai bahasa Inggris! Dan itu kita tahunya sore-sore. Huaaa, saya langsung cenat cenut ini jantung karena belum ada persiapan apa-apa buat wawancara, belum lagi saya masih ada jadwal UAS seminggu itu. Kebayang deh bagaimana saya mengatur waktunya ditengah suasana puasa juga. Setelah beres pemberian informasi hari itu, saya dan Mute nekat menuju fakultas padahal saat itu udah jam pulang kantor. Pikir saya harus selesai minta ridho sama pihak dekanat hari itu juga. Setelah menunggu *lagi* di ruang tunggu dekan, akhirnya saya disilahkan masuk untuk menemui pak Agus Salim. Berbincang dengan beliau dengan mengutarakan niat kami untuk ikut program ini, akhirnya kami dapat restu dari beliau untuk ambil subject di fakultas teknik sana. Yeaay, satu misi selesai hari itu juga, kini saya bersiap untuk tes wawancara esoknya.

Malam selasa saya dilanda kebingungan, gimana engga bingung, malem itu juga harus menyiapkan jawaban-jawaban yang bagus dari pertanyaan yang sekiranya akan muncul saat wawancara besok. Di sisi lain, saya harus belajar untuk ujian akhir matkul KKO (Kimia Kosmetik dan Obat) besok pagi juga. Hasilnya, malem itu cuma merangkum materi KKO sekilas dan lebih banyak mempersiapkan wawancara. Mulai hari itu dan dua minggu kedepannya saya mentransformasi diri dengan tidak tidur pasca sahur dan pantang tidur sebelum jam 11 malem *kebayangkan berapa lama saya tidur dalam satu hari*. Hari wawancara tiba, sebenarnya jadwal wawancara dimulai dari pagi jam 8, berhubung ujian saya bentrok maka saya memutuskan untuk wawancara setelah ujian. Benar saja,  selama ujian KKO, saya dilanda gelisah. Walaupun semua pertanayaan bisa saya isi, tapi saya belum tahu soal kebenarannya hehe. Begitu beres ujian, saya langsung cabut ke ruang rektorat. Padahal biasanya kalo abis ujian yaa nongkrong-nongkrong dulu, tapi momen ini menjadikan itu sebuah pengecualian. Masuk ruang tunggu wawancara disana sudah ada  beberapa peserta lain baik yang menunggu wawancara maupun yang sudah wawancara. Persamaan dari kesemuanya adalah wajah mereka, nampak sangat tegang dan penuh harap J. Setelah menunggu sekitar setenag jam akhirnya tiba giliran saya untuk diinterview. Rupanya, orang yang menginterview saya sama dengan Mute. Bapak dari pihak rektorat itu membuka sesi wawancara dengan meminta  saya memperkenalkan diri, tentunya pakai Bahasa inggris yah. Selanjutnya wawancara diisi dengan berbagai lontaran pertanyaan, isinya macem-macem. Ada yang tanya untungnya ikut ini apa, disana mau ngapain aja, dimana saya belajar Bahasa inggris, setelah ikut program ini saya mau ngapain, kenapa saya kuliah di UIN jurusan kimia, sampai pertanyaan punya teman bule ga? Wkk. Jujur, pertanyaan-pertanyaan itu diluar ekspektasi saya tentang pertanyaan yang akan keluar. Kata-kata indah yang sudah saya siapkan untuk pertanyaan-pertanyaan umum, akhirnya terbengkalai di jaringan syaraf otak. Malahan jawaban yang keluar dari mulut saya isinya hanya spontanitas, saya pun tidak tahu akan kebenaran tata bahasa yang saya gunakan haha. Tapi intinya pas wawancara itu saya ‘nyerocos’ aja ngomongnya, biar salah yang penting ngomong Inggris :p . Saat wawancara ada satu sesi yang menarik dimana saya harus menonton video TEDx selama 5 menit, jujur saya ga nangkep banyak apa yang di omongin sama speaker di video itu. Padahal video itu ada subtitle nya tapi tetep aja saya tidak bisa menangkap secara keseluruhan, hanya beberapa kata kunci yang bisa saya dapatkan yakni soal education adn childhood. Yang paling aneh adalah ketika di video itu banyak momen ketawanya dan saya yang menonton diam aja, kan dari situ udah ketahuan ya kalo saya ga ngerti apa yang dimaksud, untuk menghindari hal itu makanya saya sok-sok an ketawa di momen momen selanjutnya hahaha.  Keluar dari ruangan wawancara saya sendiri jujur sudah hopeless, pikir saya yaah sudah kalau memang rezeki insya Allah akan diberi. Selesai wawancara saya balik ke ruang tunggu rektorat dan disana sudah banyak yang menunggu. Rupanya, peserta wawancara tidak sebanyak peserta hari sebelumnya mungkin hal  ini dikarenakan ketidaksiapan mengenai paspor, ielts atau mungkin mental yang belum siap. Pelajaran nomor satu, selalu siap-siap untuk keadaan tidak terduga. Keberuntungan itu datang untuk orang yang siap dan punya kesempatan.

Siang itu juga hasil wawancara diumumkan, tujuannya agar peserta yang lolos bisa siap-siap untuk tes ielts sabtu depan. Bang Beki – sapaan akrab Bapak Rahmat Baihaky – mengumumnakn nama-nama yang lolos wawancara dan direkomendasikan oleh UIN untuk ikut tes IELTS. Satu persatu nama diumumkan dan dari 10 orang yang disebutkan, terselip nama Yaqin dan Mute. Bahagia luar biasa saat itu, karena disitu kita sadar bahwa kami semua one step closer untuk program ini. Selain 10 orang itu ada dua nama lainnya yang muncul sebagai peserta yang lolos tapi mereka diharuskan untuk membayar IELTS mereka sendiri, mereka adalah Sururoh dan Bella. Sesaat setelah pengumuman itu kami masih harus menunggu keputusan soal tes IELTS kami. Sepanjang siang hingga sore kami habiskan waktu di lobi rektorat untuk terus meng-update informasi. Seleksi program ini banyak sekali menyimpan kejutan, belum sempat untuk buka buku ielts kami dikabari bahwa kami tidak jadi tes IELTS namun bukan berarti kami serta merta lolos begitu saja. Ternyata dari pihak UWS akan mengadakan placement test, informasi mengenai ini akan diberikan hari kamis lusa. Perasaan deg deg an muncul tatkala kami mengira bebas dari IELTS dan placement test akan lebih sulit, ibarat lepas dari mulut buaya namun masuk ke mulut harimau. Sampai disini biarlah saya terus berspekulasi.

Sampai hari selasa UAS saya masih tersisa dua mata kuliah, masing-masing akan berlangsung di hari rabu dan kamis. Tidak menyianyiakan waktu saya membagi waktu habis-habisan untuk belajar UAS dan tetap mempersiapkan tes penempatan itu. Sejak pengumuman 10 orang prioritas itu, saya menghabiskan hari-hari saya lebih sering di gedung rektorat, tepatnya di kantor IO. Hari rabu selesai UAS pun tak luput dari kesibukan di sana, saya dan teman-teman yang lain panik bukan main tatkala segala bentuk trankrip nilai kita harus diterjemahkan ke dalam bahasa inggris. Saya yang jurusannya tidak ada kelas internasionalnya pun pusing karena dari pihak AIS memang tidak menyediakan trankip berbahasa inggris untuk saya. Pilihannya adalah mencari penerjemah tersumpah, pilihan diterjemahkan di pusat bahasa UIN di buang jauh-jauh karena memakan waktu seminggu! Langsung deh menjelang sore hari itu kita puter otak buat cari penerjemah yang satu hari jadi, kacau gak tuh? Wkk. Bermodalkan android masing-masing, akhirnya kita dapat alamat untuk penerjemah yang lokasinya dekat kampus. Harapan kami,kalau lokasinya dekat bisa kita tungguin terjemahannya hari itu juga. Sayang sekali, lokasi yang dimaksud ternayat tidak ada alamatnya di dunia nyata! Begitu kita telpon nomor yang tertera, lokasi aslinya ada di pasar minggu -_- #kzl. Hari sudah semakin sore dan berkas berbahasa inggris itu harus sudah ada besok, setelah melalui perselancaran kesana kemari akhirnya dapat lah penerjemah tersumpah di daerah Ciledug, dan beruntungnya dekat sama rumah Mute *yeay*. Sore itu juga kita langsung tembak bapak-bapak penerjemah itu *via telepon*untuk bisa selesaikan trankip kita semalam saja dan dia menyanggupi. Setelah mengirimkan trankip kami masing-masing ke email bapak tersumpah, malam itu saya tdak bisa tidur tenang menanti kapan selesainya penerjemahan dan bagaimana menghadapi ujian terakhir di semester itu.

Seperti ujian yang sudah sudah, UAS  Instrumen kali itu saya kurang fokus karena memang pikiran sudah terpecah kepada seleksi ini. Begitu keluar ruangan ujian saya menyempatkan diri ke ruang prodi untuk tanda tangan IPK dsb. Beres dari sana langsung meluncur ke ruang sidang rektorat dimana sudah ada perwakilan dari UWS dan tampak beberapa peserta sibuk dengan berkasnya. Rupanya hari itu adalah hari dimana kami akan mendaftar ke program yang di tawarkan UWS. Berkas yang belum saya miliki adalah IPK yang belum bertanda tangan akademik dan trankip bahasa inggris. Soaltanda tangan IPK di akademik ternyata bisa di urus secara kolektif oleh kawan-kawan yang lain, lho kenapa? Karena saya dan Mute ada tugas tambahan untuk meminta silabus mata kuliah yang sudah kita ambil *jegeeeer*. Kabar ini sangat mencengangkan, saya haru meminta silabus ke program studi dan yang saya tahu prodi sedang sibuk sekali. Belum lagi silabus itu harus kita bahasa inggriskan juga -_-. But, tidak ada proses yang instan memang, semua ada perjuangannya. Setelah berjibaku “menyikut” kaka kelas yang mau bimbingan sama bu Emi, akhirnya saya dapat juga silabus kimia uin jakarta. Tahu kenapa kami diminta memberikan silabus ? Karena subject yang kami ambil di UWS membutuhkan persyaratan dengan mata kuliah yang sudah saya ambil, wajar kata saya, karena background saya chemistry tapi ambil disananya civil eng. Lalu apa kabar trankip bahasa inggris? Alhamdulillah, siang menjelang sore transkip itu datang melalui email dan lega sekali rasanya. Pada akhirnya hari kamis itu saya dan kawan-kawan lain sudah beres dengan segala macem pemberkasan yang akan dikirimkan ke pihak UWS. Lega rasanya telah melalui berbagai macam kejutan yang diberikan. Penutup di hari kamis itu kami dikabari bahwa kami akan menjalani tes bahasa inggris dari pihak UWS dan tes ini lah yang akan menentukan diterima atau tidaknya kami diprogram ini, tes itu akan berlangsung senin depan yang berarti tersisa waktu 3 hari saja untuk persiapannya. Benar dugaan saya, tesnya tidaklah mudah melainkan memang seperti tes IELTS, hanya saja tidak ada speaking. Mengetahui hal itu, saya mematangkan bahasa inggris di sisa waktu 3 hari itu. Beragam buku saya pinjem dari sana sini untuk mendukung belajar IELTS itu.

Memasuki weekend yang harusnya mengawali liburan saya untuk jauh dari buku-buku namun kenyataannya adalah kebalikannya, selama jumat-sabtu-minggu saya habiskan berkutat sama buku-buku toefl, ielts, belajar grammar, dengerin berbagai jenis podcast untuk listening, baca puluhan writing task 1 dan 2. Tidak hanya itu, selama jumat dan sabtu saya habiskan belajar di perpustakaan utama tentunya di temenin sama Mute *thanks mute*. Sisanya hari minggu, saya benar-benar bersemedi untuk tidak melakukan aktivitas sosial karena memang pengorbanan itulah yang bisa saya lakukan. Saya pikir, berkorban 3 hari untuk manfaat 3 bulan kedepan. Hari eksekusi pun tiba, bertempat di ruang diorama UIN Jakarta kami sekitar 16 orang bersama sama mengikuti tes bahasa inggris yang langsung diselenggarakan oleh UWS. Seperti yang sudah diberitahu sebelumnya bahwa tes ini seperti IELTS namun minus speaking, kami menghadapi listening selama 10 menit, rupanya tema yang dibawakan tentang water storage in Sydney. Sejujurnya, selama listening ini saya faham apa yang dimaksud tapi rupanya justru saya yang tidak fokus sama pertanyaan yang ada di soal, hasilnya setelah ujian saya banyak mengutuk diri sendiri kenapa engga baca soal baik-baik. Setelah beres listening saya langsung membabat habis soal reading, asli ini readingnya gampang banget lhoo, kaya baca artikel biasa dan tidak sesulit reading yang ada di ielts. Tema yang dibawakan pun sangat familiar yakni tentang Obesity in Children, saya sangat pede dengan jawaban di bagian reading ini. Tes terakhir dan yang paling menguras pikiran adalah writing dimana kita harus menulis argumen yang kuat tentang tema yang diujikan. Entah ada kaitannya dengan program sandwich ini atau tidak, tema yang harus kita tulis adalah “its better to learn english in an english speaking country”. Tentu saja esay saya setuju doooong, namun disertai argumen yang kuat yah karena ini kan esay jadi harus sistematis gitu. Ketiga part tes bahasa inggirs ini kita lalui hanya dalam waktu 2 jam saja, dan waktu seperti berkonspirasi untuk membuat jam bergerak lebih cepat sehingga saat di menit-menit akhir saya masih panik karena ada beberapa bagian yang belum diisi. Berhubung karena tidak ada pengurangan poin jika salah, maka saya nekat untuk isi semua soal walaupun jawabannya asal hehehe. Selesai ujian, kami semua cerita mengenai tes tad satu sama lain, pada intinya semuanya harap-harap cemas dengan hasil tes ini karena memang menentukan terpilih atau tidak nya kita dalam program pertukaran ini. Saya pun merasakan hal yang sama dimana setiap hari bahkan sampai malam, selalu kepikiran hasil ujian tersebut. Seperti anak kecil yang tidak bisa tidur saat besoknya akan ada studi tour, saya pun mengalami hal yang sama saat penantian waktu pengumuman yang mana hanya 2-3 hari kedepannya. Sampai disini ikhtiar saya untuk program ini dicukupkan, hanya doa yang dapat ditingkatkan dan selebihnya Let the God do the rest.

Sesuai informasi yang diberikan sebelumnya bahwa hasil tes akan diumumkan hari rabu maka semesta terasa berkonspirasi dihari itu untuk memperlambat detak jarum jam. Dari mulai bangun sahur sampai saat solat zuhur, pengumuman tak kunjung datang. Rasa gundah gulana menyerang saya dan saya yakin peserta yang lainpun merasakan hal yang sama. Waktu belum sampai sore, saya masih menahan diri untuk tidak bertanya pada siapapun. Saya menginginkan informasi itu yang datang sendiri, sambil menahan rasa penasaran saya mengecek kembali LG yang saya miliki untuk membuka whatsapp tentunya, berharap ada informasi masuk. Benar saja, grup WA untuk program UIN – UWS ini sudah dibanjiri chat. Pada intinya sore itu juga alias setelah ashar akan diumumkan hasil tes bahasa inggris. Tidak berselang lama, saya mendapat panggilan dari nomor tidak dikenal. Rupanya itu nomor telepon kantor PLKI yang intinya meminta saya untuk datang ke kantor saat itu juga. Jujur, saat itu perasaan saya dag dig dug ser, coba aja bayangin ditelpon dan diminta datang tanpa diberi tahu sebelumnya soal apa.Saat itu juga saya langsung meluncur ke kampus tercinta dengan beragam spekulasi di pikiran. Apakah saya salah satu peserta yang lolos dan sengaja ditelpon? Atau apakah nilai bahasa inggris saya tidak memenuhi sehingga saya harus membawa pulang paspor dan berkas saat itu juga? Mungkinkah saya berada diperingkat ke 9 dari 8 peserta yang ditargetkan, namun nilai saya sebenarnya sama dengan si nomor 8? Pokoknya banyak sekali pikiran bercabang sepanjang perjalanan.

Sesampainya di kantor PLKI, rupanya sudah ada Amanda dan Ican yang sibuk dengan beragam jenis kertas didepannya. Duduk satu ruangan dengan mereka, tidak ada yang mau bercerita kenapa saya dibawa ke ruang ini, dan kenapa hanya saya saja disana (selain Manda dan Ican tentunya) kemana yang lain? Sekilas saya melihat Manda sibuk dengan kertas bertuliskan aplikasi visa australia, tentu sudah diisi dengan data-data pribadinya. Pikir saya, 2 orang ini sudah dinyatakan lolos dan sepertinya mereka sudah mengetahui hal itu dari kemarin atau paginya. Pertanyaannya adalah bagaimana status saya saat itu? Antara bahagia dan sedih, bingung sih lebih tepatnya. Lamunan saya buyar ketika mbak Lita datang dan membawa berbagai informasi yang mengejutkan. Tanpa pakai basa basi dia memberi tahu saya bahwa Amanda dan Ican sudah diterima, lalu saya? Rupanya berdasarkan hasil tes bahasa inggris hanya mereka berdua yang lolos tes dan nilai saya berada diambang batas standar, rupanya hal itu yang membawa saya ketempat ini bahwa saya ‘diusahakan’ untuk lolos dan diterima di UWS dengan nilai bahasa inggris yang sedikit berada dibawah standar mereka. Mbak Lita dkk sedang mengusahakan untuk melobi pihak UWS agar menerima saya, namun mbak Lita nya sendiri tidak menjanjikan apa-apa ke saya karena memang keputusan ada di pihak UWS-nya. Faktanya, bukan hanya saya yang sedang diusahakan untuk tetap diterima masih ada 3 orang lainnya, tapi berdasarkan pengamatan kasar hanya dua orang yang kemungkinan bisa diterima yakni Bella dan saya. Rupanya, saya berada di ranking 4 untuk urutan tertinggi hasil tes bahasa inggris lalu. Setelah dapat kabar seperti itu saya jadi makin bingung, disatu sisi saya mendapat secercah harapan untuk bisa lolos sementara disisi lain segala keputusan masih mungkin terjadi antara diterima atau tidak. Ibaratnya saya berada di area 50 : 50 antara iya atau tidak, masih belum jelas statusnya. Hasilnya malam itu saya makin tidak bisa tidur nyenyak, gelisah terus bawaannya. Pokoknya masa-masa itu adalah complicated banget deh, serba engga enak untuk melakukan sesuatu. Jadi ngerasain deh engga enaknya ‘digantungin’ *eh hehe. Durasi galau saya bertambah satu hari hingga hari kamis besok yang entah sampai jam berapa, saya tidak tahu. 9 Juli 2015, kamis itu bisa menjadi hari  yang istimewa buat saya. Setelah berjam-jam terjaga karena tidak enak tidur, tiba-tiba jam 11 an siang saya ditelpon pak Ariadi dari PLKI dan beliau mengabarkan bahwa akhirnya saya diterima oleh UWS dan berhak untuk ke Australia *yeaaaaaaay. Penantian panjang itu berakhir manis, setelah sujud syukur saya langsung meluncur ke PLKI untuk urusan pemberkasan lebih lanjut yang menurut saya akan sama menegangkannya dengan proses sebelumnya. Alhamdulillah, sampai disini curhatan saya mengenai pemberkasan program International Student Exchange 2015, masih ingat diingatan saya bahwa ‘a miracle doesn’t come overnight’, keajaiban tidak datang tiba-tiba melainkan melalui serangkain proses panjang yang melelahkan. Semoga apa yang saya lakukan ini bermanfaat dan mendapat ridho dari Allah SWT. Amiin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s