Idul Adha Tahun Lalu

Selamat hari raya idul adha 1437 H. Alhamdulillah tahun ini saya bisa merayakan lebaran haji di rumah, di Bekasi.  Beberapa tahun ke belakang saya selalu melewatkan momen idul adha di rumah dan lebih memilih merayakannya di Ciputat. Bahkan tahun lalu, saya merayakan hari raya kurban di belahan bumi yang lain, jauh dari keluarga dan sahabat, jauh dari hingar-bingar menyambut hari raya.

Hal yang terasa sangat berbeda saat akan merayakan idul adha di Sydney adalah tidak adanya euforia menyambut hari raya tersebut. Jangan bayangkan akan mencium aroma sapi/kambing di sepanjang jalan, lah pedagang sapi nya aja engga ada. Padahal disini banyak sekali taman-taman nganggur yang bisa saya bayangkan kalau di Indonesia pasti akan jadi peternakan hewan dadakan. Belum lagi, momen idul adha kali itu jatuh pada hari kerja yang pastinya bukanlah hari libur. Malam harinya, tidak sekalipun terdengar gema takbir berkumandang, masjid terdekatnya aja beda suburb dari tempat tinggal, yang saya dengar hanyalah dentuman musik dari apartment bawah, makin sepi lah ini hati saya menyambut hari raya. Saya memaklumi, umat muslim di Australia termasuk golongan minoritas. Walaupun demikian, momen idul adha kali ini tetap berkesan untuk saya.

Awalnya saya sempat penasaran, “kalau di Sydney ini engga ada yang jual hewan kurban di sepanjang jalan, lalu bagaimana caranya umat muslim disini yang ingin ber kurban?”. Tapi akhirnya saya berhasil menemukan salah satu jawaban. Hari-hari sebelum idul adha saya sempat solat di masjid Gallipoli Auburn, boleh dibilang masjid ini menjadi yang terbesar di Sydney, NSW. Papan pengumuman di masjid menempelkan selembaran tentang kesempatan untuk berkurban. Nah berbagai jenis ‘paket’ berkurban ditawarkan yang mana daging kurban nya akan dikirimkan ke negara yang membutuhkan. Mayoritas negara-negara di Afrika menjadi target penerima kurban tersebut, beberapa negara di Asia juga dicantumkan termasuk untuk Indonesia 😦 🙂 . Ini negara emang udah makmur kali yaa, makanya daging kurbannya akan dikirim ke negara-negara berkembang.

wp-image-1093336673jpeg.jpeg

 Tiba di Parramatta station

Sehari sebelum hari raya, saya sempat khawatir apakah bisa melaksanakan solat ied, mengingat masjid terdekat yang saya tahu (masjid Gallipoli Auburn) letaknya cukup jauh dari apartment saya. Jangan tanya kenapa engga solat di KJRI / dekat komunitas Indonesia. Lokasi kampus WSU dan tempat tinggal saya berada di wilayah barat nya kota Sydney, boleh dibilang jauh sekali dari KJRI / pusat kota. Beruntungnya, malam itu di grup WA PPIA WSU terdapat jarkoman tentang lokasi-lokasi pelaksanaan solat idul adha di Sydney dan sekitarnya. Walaupun tidak dapat dikonfirmasi kebenaran informasi tersebut, bismillah saja saya memilih satu tempat dan berniat untuk berangkat solat idul adha di Parramatta.

Bersama Bella dan Amanda yang kebetulan tidak berhalangan, pagi sekali kami sudah meninggalkan apartment (hey, apartment kami berbeda yah) dan berjalan menuju stasiun Kingswood. Beruntung jadwal kereta disini dapat diandalkan dan mudah diakses sehingga kami dapat memperkirakan waktu perjalanan menuju lokasi solat ied. Setelah setengah jam, kereta kami tiba di stasiun Parramatta tepat pukul 6.43. Saat itu kami berburu waktu mengingat pelaksanaan solat dijadwalkan jam 7.30, padahal kami belum tahu lokasi persis solat ied-nya. Dengan mengandalkan aplikasi penunjuk arah, kami berjalan sepanjang Darcy St mengarah ke jalan Pitt St, gedung-gedung perkantoran menghiasi sisi kanan jalan sementara pemandangan Parramatta Park tersaji indah di sebelah kiri kami. Sampai di pertigaan menuju Macquarie St, kami mengikuti segerombolan orang yang diduga akan melaksanakan solat ied juga, rupanya kami benar, memasuki taman Parramatta yang rindang di musim semi hingga melewati Old Government House tampak dikejauhan sekerumunan orang yang kami yakin itu adalah lokasi pelaksanaan solat ied.

20150924_0720251

Bersiap untuk solat ied

Lapangan cricket Parramatta Park disulap menjadi lokasi berlangsungnya solat ied. Wajah-wajah khas timur tengah mendominasi jamaah solat idul adha. Meski diterpa angin dingin, solat berlangung secara khidmat dan dilanjutkan khutbah. Sang khotib menyampaikan rasa syukurnya karena umat muslim diizinkan untuk melaksanakan ibadah, meski berstatus minoritas. Lebih lanjut, khotib berpesan agar umat Islam meneladani sikap nabi Ibrahim dan nabi Ismail yang tunduk akan perintah Allah. Khutbah berlangsung selama ± 20 menit, kemudian para jamaah bersalaman satu sama lain.

wp-image-1353329730jpeg.jpeg

Khutbah idul adha di parramatta park

Saya, Bella dan Manda melanjutkan perjalanan menuju Westfield Parramatta, sebuah pusat perbelanjaan yang letaknya berhimpitan dengan stasiun Parramatta. Menyadari bahwa tidak akan ada acara panggang sate dan sejenisnya, kami memutuskan untuk berbelanja kebutuhan mingguan dan dilanjutkan acara masak-masak untuk menghibur diri. Yeay.

wp-image-1644918216jpeg.jpeg

Tetep senyum sambil menahan udara dingin

Iklan

Mau Kuliah Berapa Lama?

Di awal tulisan ini gue mau menyampaikan ucapan selamat kepada teman-teman kimia angkatan 2012 yang sudah wisuda bulan Agustus kemarin. Sampai tulisan ini dibuat, baru 1/5 dari ± 50 mahasiswa angkatan 2012 yang sudah menyandang gelar S.Si nya. Sekali lagi, selamat untuk kalian yang gue yakin adalah orang-orang yang rajin dan tekun hingga bisa lulus tepat waktu *double thumbs*.

Sepekan setelah wisuda, kampus UIN Jakarta menyambut hangat wajah-wajah baru mahasiswa angkatan 2016. gue ucapkan selamat datang mahasiswa baru, semoga kalian menjalani kuliah yang katanya menyenangkan yah *lah emg gue siapa pake ngucapin segala? Haha*. Sejujurnya, tulisan ini didedikasikan untuk kalian lhoo my-lovely-underclassman (red: adek-adek kelas). Tulisan ini sengaja gue buat sebagai pelipur lara atau lebih tepatnya meluruskan hal-hal yang tidak menyenangkan yang biasa diterima oleh mahasiswa kelewat senior. Untuk itu, tulisan ini sangatlah subjektif dari sudut pandang gue.

Tepat 4 tahun lalu gue resmi menyandang status mahasiswa (baru) yang mulai belajar sains murni, tepatnya ilmu kimia. Waktu dulu sih bayangan gue tentang kuliah yang ideal adalah bisa lulus dalam waktu 4 tahun dengan IPK diatas 3,25. Gue rasa, semua mahasiswa baru pun menginginkan hal itu kan? Namun sayangnya, kenyataan sering kali tidak semanis gula sorbitol. Saat ini gue udah masuk semester 9, otomatis impian untuk kuliah 4 tahun tidak tercapai dong. Sedih? Engga! tapi kalau sedikit kecewa, iya, wkwk. Namun, hal yang menurut gue menyedihkan adalah asumsi yang berkembang yang menganggap bahwa kuliah lewat dari 4 tahun sebagai sesuatu yang sangat buruk dan memalukan, pokoknya harus dihindari. Belum lagi citra negatif yang menganggap si mahasiswa kelewat senior sebagai pribadi yang malas, tidak pintar (kalau tidak mau dibilang bodoh) yang membuatnya belum lulus juga. Padahal kan kalian tidak mau tahu hal sebenarnya yang menyebabkan mereka terlambat lulus. Karena ternyata, banyak sekali faktor  yang membuat mahasiswa kuliah lebih dari 8 semester dan menurut gue yang mereka lakukan itu jauh lebih keren dibanding mereka yang kuliah 4 tahun pas *sorry, no offense*.

Pertama kehidupan kampus itu dinamis. Ketika kalian masuk tahun ke 4 atau semester 7, kalian akan merasakan pengalaman kuliah yang sangat berbeda dengan 6 semester sebelumnya. Perkuliahan kelas yang akan kalian jalani semakin sedikit bahkan mungkin tidak perlu ikut kelas sama sekali karena SKS sudah mencukupi (penulis mengalami hal ini). Semester itu, kalian bisa memulai yang namanya penelitian untuk tugas akhir a.k.a skripsi. Yang ingin gue sampaikan adalah jika kalian penelitian lebih awal dibanding teman-teman seangkatan hal itu tidak menjamin kalian akan lulus duluan! Di jurusan gue sendiri (kimia), riset untuk tugas akhir minimal dilakukan selama 3 bulan, tapi kenyataannya kita menghabiskan lebih dari 3 bulan bahkan lebih dari 1 semester (beberapa bahkan sampai hitungan tahun lho) untuk menyelesaikan penelitian itu. Hal itu tergantung dari judul penelitian yang kita kerjakan, tentunya gue dan yang mahasiswa lainnya mengerjakan proyek penelitian yang berbeda-beda. Jadi, walaupun mulai penelitian barengan, belum tentu selesainya juga barengan. Nah kalau kalian ingin lulus cepat, pintar-pintar lah memilih judul penelitian dan pastinya banyak berharap serta berdoa agar penelitian yang kalian ambil bisa berjalan mulus. Karena kenyataannya, banyak sekali faktor eksternal yang berpotensi menghambat penelitian kalian seperti bahan tiba-tiba habis sehingga harus menunggu bahan baru, data kalian jelek sehingga harus diulang berulang kali, ditinggal pergi dosen keluar negeri. Tidak peduli kalian rajin, pinter, soleh-soleha, hal-hal seperti itu lah yang tidak bisa dihindari dan sangat berpotensi menimpa kita.

Ada-ada saja kejadian menarik yang dialami teman-teman gue terkait pengalamannya menjalani tahun ke 4 di bangku kuliah. Sebut saja dia Sukrosa, dia ini termasuk mahasiswa yang pintar dan siap penelitian di semester 7 tapi rupanya Sukrosa baru mulai penelitian di semester ke 8 karena judul yang diinginkannya baru bisa dikerjakan di awal tahun, otomatis jadwal penelitian Sukrosa mundur dong. Lain Sukrosa, lain pula Ytrium. Ytrium sudah memulai penelitiannya begitu menginjak semester 7, tapi takdir membawanya menembus semester 9 ketika teman penelitiannya yang lain sudah wisuda. Sama seperti Ytrium, Benzen memulai penelitiannya di semester 7, ketika penelitiannya sudah selesai dan siap untuk sidang, dia dihadapkan pada kenyataan bahwa SKS nya belum mencukupi , beredar kabar bahwa dia harus mengambil mata kuliah kelas di semester 9 ini :(. Lain Ytrium, lain pula Theobromine, disaat teman-teman seangkatannya baru mulai semprop dan penelitan, Theobromine sudah selesai dengan penelitiannya tapi belum bisa semprop karena urusan akademis 😦 .

Pokoknya masih banyak deh kasus-kasus yang unik tentang balada mahasiswa penelitian, pikir lagi jika kamu masih berprasangka buruk terhadap mereka. Nanti juga ngerasain sendiri deh pas menginjak tahun ke 4, hehe.

Dear adik-adik tercinta yang suka memborbardir kakak kelasnya dengan pertanyaan “kak kapan semprop?”, “kak udah semhas?”, “itu temen kakak udah sidang, kakak kapan?” tolong lanjutin baca tulisan ini yah.

Selain karena riset yang waktunya tak terduga, ada hal lain yang menyebabkan mahasiswa menambah durasi semesternya dan itu bukan sesuatu yang buruk!

Namanya Ester, dia mahasiswa yang cerdas dan aktif. Di tahun ke 4 nya kuliah, dia mendapat amanah untuk memimpin salah satu organisasi kampus. Jabatan yang harus diembannya berdurasi 1 tahun, praktis dia harus menyelesaikan amanahnya telebih dahulu. Sama halnya dengan Ester, Boron dipercaya untuk memimpin suatu organisasi, hal ini yang membuatnya fokus mengurusi ‘rakyat’ ketimbang penelitiannya. Saat ini mereka sudah memasuki semester ke 9 nya. Gue sekali-dua kali pernah ngobrol dengan masing-masing mereka, disatu kesempatan gue pernah bilang bahwa yang mereka lakukan itu hebat, mereka mengabdikan diri pada organisasi dan walaupun mereka terlambat lulus tapi mereka akan memiliki bekal lebih untuk menjadi pemimpin di lingkungannya! Hal yang belum tentu dimiliki oleh mereka yang kuliah 4 tahun.

Sudah disebutkan di awal bahwa masuk semester 7 perkuliahan cenderung lengang sehingga bisa saja mahasiswa tidak langsung fokus ke tugas akhir melainkan menjalani kegiatan lainnya. Satu contoh, ada teman gue yang memutuskan untuk menikah sebelum memulai skripsi, katanya biar ada pasangan yang membantu menyemangatinya selama penulisan skripsi. Gimana, mantap ga tuh?

Belum lagi ada si Maleat, sampai saat ini dia belum buat proposal penelitian tapi sekarang sedang mengerjakan proyek buku yang ke-3 nya. Asli, keren coy udah mau bikin 3 buku. Gue aja ngerjain skripsi yang notabene nya sama dengan 1 buku, belum selesai nih.

Kemudian cukup banyak gue amati, mahasiswa yang saat masuk semester 7 meninggalkan sejenak tugas akhirnya dan fokus mengembangkan bisnisnya. Ini beneran hebat, mereka berani mengambil keputusan untuk merintis sebuah usaha yang tentu saja tidak mudah untuk dijalani, mereka ini nyata berkontribusi dalam peningkatan data stastistik wirausahawan di Indonesia. Bahkan ada diantara mereka yang sudah melanglang buana menyampaikan gagasan bisnis yang dijalaninya, menang berbagai kategori bisnis tingkat nasional dan internasional, mengharumkan nama  daerah dan almamaternya. Saat ini mereka berstatus mahasiswa bersemester 2 digit, masih mempermasalahkan status semesternya?

Yang lucu adalah saya pernah membaca status BBM seorang teman, namanya Riboflavin, dia ini mahasiswa akhir juga tapi sudah bekerja di suatu restoran cepat saji ternama, jabatan yang diembannya adalah manager. Karena kesibukannya itu dia belum sempat mengurus penelitian dan sekarang beberapa temannya sudah diwisuda. Yang menarik, dia pernah menulis begini, “ente sudah lulus kuliah tapi minta kerjaan sama ane yang belum lulus kuliah, situ waras?”. Membaca status itu saya tercengang karena status itu sangat menohok bagi mereka yang sudah lulus kuliah tapi masih kebingungan.

Beberapa kasus diatas menegaskan bahwa menjadi mahasiswa smt  9 atau lebih bukanlah sesuatu yang buruk. Mungkin saja mereka mampu menyelesaikan kuliah  4 tahunnya namun mereka memilih untuk melakukan hal-hal yang lebih berarti bagi mereka ketimbang hanya mengejar status kelulusan. Tidak dapat dipungkiri, hal ini kembali kepada masing-masing individu, they have their own preference. Selagi berstatus mahasiswa, mereka menjalani perkuliahan versi terbaik mereka.

Tulisan ini tidak bermaksud untuk menghakimi mereka yang kuliah tepat waktu. Tentu saja kuliah tepat waktu adalah sesuatu yang bagus dan membanggakan. Karena selepas kuliah, mereka bisa segera mengaplikasikan ilmu yang dimiliki, mengejar cita-cita lain dan pastinya selangkah berada di depan mereka yang belum lulus. tulisan ini hanya ingin meluruskan persepsi buruk yang sering diterima oleh mahasiswa over semester. Intinya sih, tidak ada benar atau salah ketika kita dihadapkan pada kuliah 4 tahun atau lebih. Udah gitu aja, kalau dirasa tulisan ini engga cocok buat kalian yaa buat tulisan tandingan dong! Hahaha.

Oh iya, buat maba dan adik-adik kelas, “kalian mau kuliah berapa lama?” 🙂

Sekelumit Cerita Sebelum ke Australia

Kingsford international airport, tepat setahun yang lalu.

Kuhirup udara pagi itu dalam-dalam, sejuk dan terasa segar. Sempat kulirik layar HP yang menunjukkan waktu pukul 3 dini hari, padahal jam besar yang berjarak beberapa meter dari tempat saya berdiri menunjuk angka 6 yang kelebihan 20 menit. Baru beberapa langkah setelah keluar melewati pintu otomatis, hawa dingin sekonyong-konyong menyerang tubuh mungil saya yang hanya dilapisi jaket winter ala kadarnya. Rupanya, perlu waktu puluhan menit untuk berhasil menyadarkan bahwa saya baru saja mengalami penerbangan 7 jam, lintas negara, lintas benua.

Setelah keluar dari bagian imigrasi, tidak sulit untuk menemukan Gareth yang membawa papan bertuliskan “Yaqin, UIN Jakarta”. Dia berdiri mematung di barisan para penjemput. Ketika saya berdiri di depannya, dia langsung memberikan sambutan hangatnya, “Are you Yaqin from Jakarta? I am Gareth, welcome to Australia!”. Tanpa diberi kesempatan untuk istirahat sejenak di bandara atau sekedar membeli kartu SIM, saya berjalan cepat  di belakangnya tanpa perintah. Saat itu saya menenteng tas ransel Zeintin sambil menarik koper seberat ± 15 kg menuju parkiran mobil. Dengan kecepatan 80 km/jam, perlahan saya menjauhi area bandara, pandangan di depan hanya menyajikan jalan tol yang kosong dengan signs yang namanya masih sangat asing bagi saya. Sisi kanan mobil menawarkan pemandangan yang lebih menarik, terlihat dari kejauhan gedung-gedung pencakar langit bermandikan cahaya matahari. Sepanjang perjalanan, Gareth banyak bercerita soal usahanya untuk bangun sangat pagi supaya tidak telat menjemput saya, pengalamannya yang dulu pernah menabrak kanguru hidup-hidup di jalan tol, hingga memamerkan kemampuan polyglot-nya. Saya yang masih jetlag hanya  menanggapi cerita seperlunya saja. Saat itu, raga saya sudah di Sydney tapi entah kenapa pikiran saya masih dipenuhi berbagai pertanyaan yang jumlahnya tidak terhitung.

beberapa minggu sebelum penerbangan

Saya tatap wajah ibu dengan dalam, tampak sepasang bola matanya menahan sesuatu yang biasa disebut air mata. Saya tak tahu pasti, mungkin sedih karena akan ditinggal pergi bujang nomor 2 nya atau karena keheranan mengapa dirinya bisa berada di acara seremonial ini. Pagi itu, para calon mahasiswa yang akan berangkat ke Sydney dikumpulkan bersama orang tua walinya di ruangan yang sama saat dulu kita menjalani ujian bahasa inggris. Acara tersebut mengenalkan kepada orangtua wali mengenai apa itu student exchange dan apa yang akan dilakukan anaknya beberapa bulan mendatang. Hal ini sekaligus simbolis pelepasan mahasiswa terpilih yang akan berangkat meninggalkan Indonesia minggu depan. Pihak rektorat, pengurus international office hingga jajaran dekanat fakultas turut hadir dalam acara ini, melepas penuh harap akan keberhasilan mahasiswa pilihan mereka untuk belajar di negara lain, benua lain. Suasana haru seperti ini bukan pertama kalinya saya rasakan, 2 minggu sebelumnya, tepatnya saat-saat lebaran, hal yang sama menyeruak dalam diri saya. Apakah menjalani program ini adalah jalan terbaik yang Tuhan berikan?

Momen lebaran kali ini terasa spesial dan beda, senyum sumringah harus terpancar dari diri saya. Kata-kata Australia, Sydney, exchange, mendominasi percakapan saya dengan setiap orang yang ditemui, khususnya setelah bapak saya yang selalu memulai silaturahmi lebaran dengan kata, “mohon doanya yaa pak haji, bu ini, mas itu, anak saya insya Allah abis lebaran ini mau berangkat sekolah lagi ke Australia”, saya yang memang berada disitu otomatis mendapat perhatian ‘lebih’. Di momen seperti itu saya merasakan bias antara memohon doa atau bercerita dengan bangga haha.

Rentetan silaturahmi hanya bertahan 2 hari lebaran saja, penyakit yang di derita bapak kumat, memaksa kami untuk tinggal di RS Hermina. Saat keadaan buruk menimpa keluarga kami, saya sempat berpikir untuk membatalkan keberangkatan padahal saat itu saya belum pasti bisa berangkat karena visa yang tak kunjung issued. Setelah hampir 1 minggu di rawat di RS, akhirnya bapak di.perbolehkan pulang ke rumah, tepat 1 minggu sebelum tanggal 26 Agustus, jadwal keberangkatan kami ke Sydney.

Hari berlalu cepat, Minggu tanggal 26 Agustu tiba, pihak kampus UIN jakarta melepas mahasiswanya untuk berangkat ke Australia, tentu tidak ada saya disana dikarenakan visa yang masih belum juga keluar, padahal hari sebelumnya saya sudah sempat ke kantor UIN sambil menenteng koper yang berat dengan harapan agar tetap berangkat bersama peserta yang lain. Apalah daya, setelah lewat hari minggu itu,  saya memasuki masa kritis dan momen penuh ketidakpastian yang tidak menyenangkan. Batal berangkat ke Australia karena kendala visa adalah sesuatu yang tidak bisa saya terima, sedih rasanya. Setelah hari Minggu itu, pihak UIN memberikan tenggang waktu semingggu lagi, dengan harapan visa saya segera keluar dan tetap bisa berangkat ke Australia.

Jadi lah saya memasuki hari-hari penuh ketidakpastian dan dilanda harap cemas. Sejak senin tgl 27 agustus itu, tak henti saya WA mbak Lita dr pihak representatif kampus dan mbak Agnez dari pihak yang mengurus visa kami. Bang Beki dari international office pun tak luput dari chat saya. Spekulasi yang sempat muncul adalah, isu agama dan nama paspor yang menyebabkan visa saya tak kunjung keluar, hal yang saya yakini juga saat itu, logikanya adalah saya, M Ihsan, Bella dan Amanda, kami semua membuat visa bersama, bahkan cek kesehatannya pun bareng kemudia visa Bella dan Manda keluar seminggu setelahnya, yakni sebelum lebaran sementara saya dan M Ihsan tak kunjung dapat kabar soal visa.

Senin, selasa, rabu telah dilewati tanpa menemui titik terang soal kapan visa akan keluar, pagi-siang-malam pikiran saya engga jauh dari mencemaskan soal nasib ini, bahkan tiap malam sampai terbawa mimpi. Setelah itu badan saya sudah mulai drop karena stres dan terganggu fikirannya, hari kamis saya mulai terbaring lemas di rumah, masih rutin memikirkan kejelasan soal pertukaran, tak terhitung jumlah chat saya dengan mbak Agnes, ‘mbak, ada kabar soal visa saya mbak?’, ‘mbak, visanya udh keluar belom mbak?’ dan pertanyaan sejenis yang intinya menanyakan soal visa, jawaban mbak Agnez pun selalu sama ‘belum ada yaqin, nnt pasti mbak  kabarin koq kalo ada perkembangan’. Kamis pun berlalu, badan saya semakin sakit tak karuan. Hari jumat datang, memberikan harapan terakhir perjalanan student exchange saya yang terancam batal, hal ini dikarenakan dari pihak UWS memberikan ultimatum bahwa jika sampai jumat ini visa tidak keluar, maka saya tidak jadi berangkat karena perkuliahan di australia akan memasuki minggu ke 3 dan saya telat mengikuti pelajaran. Dengan asumsi bahwa kantor imigrasi hanya bekerja sampai hari jumat, praktis hanya tersisa satu hari terakhir, saya sangat berharap banyak hari jumat itu visa saya akan keluar, lewat dari hari jumat maka saya tidak tahu bagaimana psikologis saya kedepannya.

TGIF yang sangat saya harapkan tidak muncul, waktu masih magrib di Indonesia namun sudah malam di Australia sana, menurut mbak Agnez belum ada kabar dari imigarsi di aus, sudah pasti visa saya tidak.akan issued hari sabtu atau minggu. Seketika pintu untuk ke Sydney serasa sudah tertutup, kecewa, kesal, sedih itu pasti sempat saya bergumam ‘apakah ini benar krn nama Muhammad?’ saya heran sendiri. Setelah sempat mengabaikan kegiatan KKN bahkan melewatkan acara pelepasan yang dilaksanakan jumat kmrn, saya kembali menata diri untuk siap turun ke Barengkok, Bogor menyusul kelompok Greget yg sudah lebih dulu tiba disana.

Sudah diduga, sabtu dan minggu tidak akan ada kabar mengenai visa, dengan berat hati saya membongkar muatan di koper besar dan mulai packing untuk ke tempat kkn. Sampai sini belum ada kabar lebih lanjut dr pihak UIN mengenai pembatalan keberangkatam saya.

Sementara di grup WA calon penerima student exchange, beberapa foto diupload oleh mereka yg sudah tiba di Australia. Perasaan senang sekaligus envy campur aduk, hati saya berkata ‘harusnya gue juga disitu!’.

Hari senin datang, walaupun belum pulih dari sakit, saya memutuskan untuk berangkat ke tpt KKN sore itu, sudah janjian dengan tmn kelompok utk berangkat bareng dari UIN. Hingga akhirnya sekitar jam 1 saya menerima telpon dari bang Beky pihak UIN. Saya ingat betul, tanpa basa basi bang Beky langsung berucap, “Yaqin, visa kamu sudah keluar, segera berangkat skrg” “sudah jangan melamun, kemasi barang skrg, kamu brgkt malam ini juga, kalo ga siap, kamu batal berangkat”.

Mendapati info bahwa visa saya keluar siang itu, rasanya beneran nano-nano, bang beki seperti membaca pikiran saya yg sedang melamun dan ragu untuk berangkat hari itu juga, tapi mendengar ‘ancaman’ dari nya, itu lebih mengerikan hahaha.

Selepas menerima telpon dr bang beki, seketika rumah saya langsung heboh, saya yang sebelumnya sakit dan lemas, tiba tiba langsung sehat segar dan bugar hahaha. Bahkan beberapa kali bapak dan ibu menanyakan kesiapan saya utk.berangkat saat itu juga, krn mereka khawatir saya akan menjalani perjalanan yg jauh dalam kondisi sakit. Setelah berhasil meyakinkan mereka, saya diburu waktu untuk.berkemas. jadilah saya bongkar kembali tas utk kkn dan memindahkan sebagian barang ke koper. Kegiatan packing tidak menyita banyak waktu, ada hal lain yang butuh banyak waktu: berangkat ke airport. Saat itu sudah masuk waktu ashar, dan saya diberitahu bahwa penerbangan jam 8 malam. Untuk efisiensi.waktu, mengingat hari.itu hari senin.dan jam pulang kantor, saya memutuskan untuk langsung saja ke airport dan pihak uin menyusul juga ke airport. Setelah pamit sama encang-encing jadilah sore itu menumpang taksi menuju.bandara, sampai di.bandara menjelang magrib dan utusan dr UIn belum datang juga, fyi saya di airport cuma modal koper saja, belum.pegang tiket pesawat dan AUS $, nekat banget ya, bahkan saya sempat berpikir, ini.kalo batal berangkat hari ini malu atuh ya..hahaha

Drama ala ala sinetron tidak terjadi, selepas magrib, Abib dan ka Indah sdh tiba di bandara. Urusan administrasi dengan mereka selesai. Berhubung 1 jam lagi pesawat akan lepas landas.akhirnya saya harus mengucapkan salam perpisahan kepada mereka. Pelukan terkahir dengan ibu, berhasil membasahi mata kami.berdua. setelah melewati imigrasi, saya masuk ke.ruang tunggu , terlihat jelas body pesawat bertuliskan Qantas. Penerbangan kali itu seperti membawa saya ke.lorong lorong waktu, rasanya takdir saya dijungkir balikkan dgn cepat, kemarin pintu exchange seperti sudah tertutup, tapi skrg saya sdg menjalani impian itu.

Akhirnya saya Tiba di Kingsford Intl airport, detik itu, saya menyadari, saya akan menjalani  4 bulan kedepan sendiri, sanggupkah?

Matahari di Ujung Barat

Malam minggu kemarin (16/1), gue ‘kabur’ dari Ciputat yang sudah mulai kosong ditinggal libur mahasiswanya. Sudah memang jadwalnya kampus UIN Jakarta sepi di bulan Januari – Februari. Bersama 14 9 orang lainnya, kami bergerak ke arah barat daratan pulau Jawa. Mudah ditebak, daerah Banten ujung menjadi destinasi kami, bukan Carita bukan juga Anyer melainkan Tanjung Lesung. Itu lho, tempat wisata yang katanya sedang gencar berbenah karena kedatangan investor yang yakin akan potensi wisata di Tj.Lesung bakal menyamai Bali.

Diangkut oleh dua mobil, kita berangkat dari parkiran Triguna menjelang pukul 3 sore. Karena satu dan yang lain hal, mobil pertama berisikan lima orang berangkat duluan menuju daerah Serang. Sementara mobil satu lagi, mobil yang gue tumpangi menyusul kemudian. Alasan kami berangkat belakangan adalah menunggu Irfan yang belom beres dari kerjaannya. Memang, diantara kita berempat (Imad, Dhiya, Yasir dan gue), tidak ada satupun yang merupakan fotografer profesional bahkan setau gue kita engga ada yang punya DSLR haha. Lagi pula, kurang afdal rasanya jika jalan-jalan tanpa dokumentasi yang mumpuni, maka kuatlah alasan kami untuk menunggu Irfan ini. Selain alasan yang sudah pasti Irfan mafhum, keberadaannya bikin suasana makin rame dan tentunya mengurangi beban bensin kita berempat wkwk. Saat kami menunggu di daerah Cinere dekat rumahnya, sampai lah pesan whatsapp yang dikirimkan Irfan yang isinya kalo dia tidak bisa ikut karena masih ada urusan kerjaan. Yaah sedih sih, tapi tak apa, pertunjukan harus tetap berjalan (the show must go on) jadilah kita memutuskan untuk tetap berangkat walau tanpa hasil jepretan Irfan. Pokoknya, kita masih hutang satu perjalanan sama lu ya Fan. Disinari matahari sore, Datsun abu-abu kami meluncur cepat di jalan tol Jakarta – Merak, melesat dan tiba-tiba membawa kerinduan gue akan suasana sore hari di Circular Quay.

Selama dua jam, kita sampai di rest area  km 43 yang merupakan meeting point kami dengan mobil pertama, disana rombongan Acil dkk sudah kebosanan menunggu kami. Setelah istirahat sebentar untuk sholat maghrib – isya, kami ber-9 melanjutkan sisa perjalanan dari Serang menuju Tanjung Tum yang diperkirakan akan menyita waktu 2 jam juga. Berhubung sudah malam, tidak banyak pemandangan yang bisa dinikmati sepanjang jalan ditambah masih minimnya penerangan di beberapa ruas jalan. Yang bisa kami lihat hanyalah lampu-lampu kendaraan berwarna merah dan kuning menyala di depan kami. Pinggir jalan pun hanya disesaki rumah-rumah warga atau warung-warung pinggir jalan, sepengamatan gue tidak banyak warga yang beraktifitas malam itu. Kami terus bergerak ke arah selatan, dimana landscape perumahan berganti dengan berbagai kawasan industri, banyak sekali pabrik yang namanya belum pernah kami kenal dilewati begitu saja. Sekilas kawasan ini mirip dengan kawasan industri di daerah Bekasi. Dari kejauhan, tampak satu dua truk besar keluar dari dalam pabrik. Ada satu pabrik yang berhasil menyita perhatian kami. Dari jarak yang masih jauh, terlihat langit menyala oranye namun dalam lingkup yang tidak luas. Nyala yang ditimbulkan ini khas sekali milik api, selain kebakaran kami menduga ada aktifitas lain yang terjadi disana. Nyala api semakin menjadi-jadi ketika kami melewati sebuah pabrik petrokimia, rupanya memang betul terdapat api berkobar hebat yang keluar dari cerobong yang sangat besar, api yang besar ini mampu menjangkau cahayanya hingga jarak jauh. Kami lega bahwa itu bukan sebuah kebakaran melainkan aktifitas pabrik yang gue duga sedang produksi di malam hari.

Mendekati jam 10 malam, akhirnya kami sampai di Tanjung Tum, tempat kami akan berkemah malam itu. Belakangan gue dan semobil cukup menyesal memilih tempat itu untuk bermalam, karena harga yang dipatok untuk satu mobil mahal! 50 ribu untuk sebuah tanah kosong pinggir pantai. Memang gue sendiri belum sempat survey di google mengenai lokasi yang memungkinkan untuk berkemah. Yah sudahlah, terlepas dari itu kami bergegas mendirikan dua buah tenda agar suasana liburan lebih dekat dengan alam. Sebenarnya sih alasan utama memakai tenda karena untuk menekan abis-abisan biaya akomodasi, lumayan kan engga keluar duit 50-100 rb seorang cuma buat tidur ajah haha. Ditambah lagi dua buah tenda yang kita gunakan adalah hasil gerilya nanya kenalan sana sini, sampai akhirnya kita dapet pinjeman tenda. Makasih abang-abang yang udah pinjemin tenda J . Tidak butuh waktu lama sampai tenda siap dipakai, kami langsung membongkar perbekalan berupa ayam yang sudah di ungkep lengkap dengan arang dan panggangannya. Jadilah saat itu kita semua manggang ayam + sosis untuk makan malam. Namanya lagi lapar, makan apa aja pasti enak, apalagi makanan yang emang dasar enak kaya ayam panggang. Urusan perut kelar dan badan sudah pegal digerus perjalanan 4 jam menghasilkan rasa kantuk yang teramat. Masing masing dari kami memilih tempat terbaiknya untuk tidur, ada yang di tenda, di dalam mobil dan di tikar depan tenda, gue memilih tidur di dalam tenda. Alam memang luar biasa, deburan ombak sepanjang malam berhasil menjadi pengantar tidur yang nyenyak kala itu.

20160117_055023 (FILEminimizer)

Satu yang sayang sekali terlewatkan saat liburan adalah momen bangun pagi! Kalo biasanya di rumah atau di kosan habis subuh lanjut tidur lagi maka hal itu haram dilakukan saat sedang jalan-jalan. Masa iya sudah pergi jauh cuma buat pindahin tempat tidur? Ditambah lagi, momen pagi hari itu menyenangkan, jika tidak mendapatkan sunrise yang eksotis (seperti di mahameru :p) tidak ada salahnya menikmati udara segar pagi hari, itu tuh bikin pikiran seger banget. Persis depan tenda tersaji pemandangan laut lepas, juga nampak dari kejauhan kapal-kapal yang sedang berlayar di selat Sunda. Bayangan hitam yang sangat besar jelas terlihat dari arah laut, rupanya itu adalah pulau Sangiang, entah apakah ada peradaban di pulau itu gue engga tahu. Sebenarnya Tanjung Tum bukanlah destinasi utama rombongan Ciputat ini melainkan Tanjung Lesung. Terdamparnya kita di Tanjung Tum karena semalam kita harus segera mencari tempat bertenda dan Tanjung Lesung bukanlah tempat yang memungkinkan untuk kita datangi tengah malam. Belum sempat mandi  sarapan pagi, kami langsung meluncur dari Tanjung Tum ke Tanjung Lesung. Berkendara menyusuri jalan raya Anyer, kami disuguhkan pemandangan pantai dan laut di sebelah kanan jalan dan hijaunya persawahan di sisi kiri jalan. Beberapa lokasi pantai yang sudah cukup dikenal kami lewati begitu saja diantaranya pantai Anyer dan pantai Carita. Sempat berhenti untuk sarapan di warung makan Tegal, kami sampai di lokasi wisata Tanjung Lesung sekitar pukul 10 pagi. Sampai di kawasan wisata ini kekonyolan kami dimulai.

Boleh dibilang Tanjung Lesung merupakan kawasan wisata terpadu yang sudah dikelola pihak swasta. Hal ini tercermin dari harga tiket masuk wisata pantainya (Tanjung Lesung Beach Club) yang tidak ramah bagi kami mahasiswa. Bayangkan, diakhir pekan perorang dipatok harga 40 ribu hanya untuk bermain dipantai dan melihat dermaga. Tidak ingin membuang percuma uang tersebut, rombongan mobil pertama dan mobil gue terpisah. Mereka rela merogoh dompet dalam-dalam, sedangkan kami sisanya mencari alternatif pantai lain. Sebelumnya gue sempat googling dan menemukan ada pantai gratis-an di kawasan Tanjung Lesung, begitu sampai dilokasi, pantai Bodur yang kami tuju rupanya ditutup untuk umum karena alasan yang tidak jelas. Tau aja ya giliran ada pantai gratis-an eh malah ditutup haha. Tidak mau ambil pusing, Imad yang membawa mobil berinisiatif untuk coba keliling kawasan tersebut dan seketika tergoda lah kita untuk masuk area resort/villa. Kami masuk kawasan resort begitu saja tanpa ada pemeriksaan dari satpam hingga akhirnya berhasil menepikan mobil di depan sebuah villa. Rumah yang disewakan itu telihat sepi tak berpenghuni, beberapa rumah lainnya sudah ada yang menempati, terlihat dari parkiran mobilnya yang penuh berisi. Riuh rendah suara ombak terdengar dari halaman belakang villa kosong, benar saja, sepelemparan batu dari tempat kami parkir sudah terhampar laut lepas lengkap dengan pantainya yang bening. Luar biasa akhirnya kami bisa masuk ke pantai juga.

20160117_094036 (FILEminimizer)

Kami yang sudah lama kekurangan vitamin sea langsung mengambil posisi untuk nyebur ke laut. Papan bertuliskan do not swim tidak kami indahkan keberadannya karena kami melihat sudah banyak orang sedang berenang. Sepengamatan gue, pantai Tanjung Lesung boleh dibilang cukup bersih. Pasir putihnya masih terhampar tidak luas, tepi airnya masih sangat jernih yang dilanjutkan dengan gradasi warna hijau tosca hingga kebiruan sukses memanjakan mata gue. Tanpa aba-aba, masing-masing dari kami sudah menenggelamkan diri di perairan selat sunda tersebut, sayangnya kesenangan kami berenang sangat terganggu dengan banyaknya batu karang yang membuat kaki kami harus cermat melangkah. Lengah sedikit bisa bisa gue kaki berdarah karena menginjak bebatuan yang lancip itu. Keberadaan kami di dalam air tidak berlangsung lama, hal ini karena kami ingin mencari pantai lain yang bebas dari karang. Berjalanlah gue, Imad, Yasir dan Dhiya menyusuri jalan setapak kawasan villa tersebut. Berharap menemukan spot untuk berenang, kami malah bertemu rombongan mobil pertama yang sedang asyik berfoto di dermaga.

Hari semakin siang, matahari semakin meninggi diiringi naiknya suhu udara jam 12 siang, bukan waktu yang tepat untuk berenang. Istirahat adalah saat yang tepat, semilir angin pantai berhasil menidurkan kami di sebuah bangku besar yang memang sengaja dicptakan khusus untuk bersantai. Deburan ombak menambah khidmat suasana. Tanpa obrolan, kami terlelap di bawah pepohonan rindang sekitar. Dibangunkan oleh Acil dkk dari mobil pertama yang pamit akan pulang siang itu juga, rombongan mobil Imad memutuskan untuk tetap singgah hingga dapat momen matahari terbenam. Kalo kata Imad sih, “Rugi udah jauh-jauh dari Jakarta, bayar mahal buat masuk Beach Club tapi cuma nikmatin 3-4 jam doang”. Benar juga sih, apa yang dikatakan Imad kita amini bersama hahaa.

20160117_163330 (FILEminimizer)

Agenda siang itu kami lanjutkan untuk mandi, solat Zuhur dan cari makan siang. Salah satu masjid menjadi tempat singgah kami untuk 2 kebutuhan sekaligus, mandi dan sholat (plus nge-charge hape). Sedangkan makan siang kami berlangsung di sebuah tempat bakso, ditebus dengan harga 10 ribu masing-masing dari kami lahap menikmati semangkuk bakso yang tak lupa kami tambahkan perbekalan nasi yang masih tersedia. Setelah makan siang kami tergoda untuk mendatangi pantai selain Tanjung Lesung, bapak tukang bakso dengan baik hati menyarankan kami untuk ke pantai Umang sebelum nyebrang pulau Umang. Berbekal keyakinan akan informasi dari tukang bakso itu kami nekat ke pantai yang dimaksud. Tidak adanya papan petunjuk jalan akan seberapa jauh lokasi Umang memaksa kami mengurungkan niat. Setelah berkendara lebih dari setengah jam kami berhenti di tengah perjalanan yang pada akhirnya kami tahu bahwa jarak yang harus ditempuh masih 30 km lagi, pelajaran nomor 1 percaya dengan waze/google maps, bukan feeling tukang bakso!

IMG-20160118-WA0002 (FILEminimizer)

Pada akhirnya kami malah kembali ke Tanjung Lesung untuk menghabiskan sisa sore itu dan berharap menjumpai matahari terbenam dari ujung barat pulau Jawa. Gue yang tidak kuat menahan godaan air laut sore itu memutuskan untuk menyeburkan diri lagi sambil terus memandangi ufuk barat yang sudah mulai redup sinar mataharinya. Namun takdir berkehendak lain, tidak sampai setengah jam sebelum sunset tiba, angin dari arah timur membawa masuk awan hitam yang kemudian menurunkan hujan deras kala itu. Praktis, matahari tertutup awan tebal sehingga tidak ada sunset untuk kami. Tak ambil pusing soal sunset, gue, Imad dan Dhiya malah lanjut main hujan-hujanan sambil mengingat-ingat “kapan ya terakhir kalinya gue main ujan-ujanan kaya gini?”.

Pukul satu dini hari kami tiba di Ciputat dengan kondisi badan yang sudah mau rontok. Tidurnya kami di kosan Hanif malam itu mengakhiri perjalanan kita dari Tanjung Lesung yang bagi gue sendiri ini adalah kali ke empat gue bersilaturahmi ke daerah Banten non Tangerang selama jadi mahasiswa. Jika sempat, gue akan menuliskan momen pertama gue ke daerah Serang tepatnya di Kragilan untuk main ke rumah Silam dimana WC adalah barang langka dan mewah. Kesempatan kedua terjadi ketika gue singgah di rumah bang Umar di pelosok Rangkas Bitung yang katanya dekat dengan kawasan Baduy luar. Momen ketiga ini yang paling konyol dimana gue, bang Aden, Darwin dan bang Umar memisahkan diri (alias kabur) dari rombongan acara organisasi setibanya kami di villa daerah Anyer haha. Apapun momennya, pokoknya mah Banten meninggalkan memori yang indah buat gue dan insya Allah akan terus gue jelajah. Ditambah lagi, gue masih belum kesampean untuk berkunjung ke taman nasional Ujung Kulonnya yang terkenal akan spesies endemiknya itu –badak bercula satu-.

mtf_wNJxW_325.jpg (FILEminimizer)

 

 

Beranda 12 Bulan

 

Halo kawan tidak terasa yah kita sudah berada di penghujung tahun 2015. Menengok kembali ke 12 bulan ke belakang, pastinya sudah banyak capaian-capaian yang telah kalian raih di tahun ini. Sama halnya seperti kebanyakan orang, saya memiliki catatan mengenai resolusi yang akan dilakukan selama tahun 2015. Setelah iseng membuka kembali file ms.word di lappy tercinta, saya menemukan tulisan itu, tulisan yang singkat, bahkan tidak lebih dari 100 kata namun ternyata memliki dampak yang luar biasa!

15

catatan di awal tahun yang berakhir dengan coretan “done”

Masih segar ingatan saya ketika memikirkan “apa ya yang mau gue lakuin di 2015” atau “gue harus ngapain ya di 2015”. Jujur saja, pada awalnya saya menuliskan resolusi diatas hanya karena “ikut-ikutan orang” dimana tiap awal tahun, orang berbondong bondong menuliskan segala resolusi indahnya namun kebanyakan cita-citanya sudah meredup di akhir bulan Januari 😀 . Tidak ingin sekedar ikutan trend, saya bertekad untuk siap dan bertanggung jawab merealisasikan apa yang sudah saya tulis. Untuk itu saya perlu waktu cukup lama (ga sampe semaleman sih :P) agar merampungkan daftar impian di 2015 dengan pendekatan serealistis mungkin, agar tidak sekedar bunga tidur yang belum tahu jalan mewujudkannya. Bisa dilihat di foto tersebut terdapat 5 bagian besar yang ingin saya raih di 2015, yap benar, ‘cuma’ lima hal itu yang pengen saya kejar. 5 point itu hanyalah garis besarnya saja, bentuk realisasinya adalah tulisan-tulisan kecil di bawahnya. Pada waktu itu saya berharap dengan melakukan hal-hal di tulisan kecil akan mengantarkan saya ke point besar nya. Pertanyaannya, apakah tulisan di atas terbukti efektif?

Bisa dilihat, tiga dari lima mimpi saya berakhir dengan tulisan ‘done’, dan terdapat satu lagi point yang mana saya yakin sudah dekat untuk meraihnya (almost there). Tulisan ‘done’ menandakan bahwa saya telah berhasil mendapatkannya di 2015, yap saya mewujudkannya kawan. Sejujurnya, pada awalnya saya agak pesimis untuk bisa meraih nomor 2 dan 5. Dua point tersebut saya yakini akan menyita banyak tenaga dan waktu, saya sendiri sudah cukup disibukkan dengan kegiatan kuliah (jurusan kimia coy), organisasi sana sini dan jadwal ngajar supaya bisa beli shampo. Ditambah lagi saya sudah sering kali gagal dalam meraih si nomor 5. Tapi memang Tuhan punya kuasa-Nya melalui jalan yang tidak disangka-sangka. Saya berhasil merasakan atmosfir nomor 2, terbayar jerih payahnya mengejar nomor 4, dan menghirup langsung ‘udara’ nomor 5. Lalu bagaimana ceritanya saya bisa meraih hal-hal di atas?

 

Sebenarnya nomor satu bukanlah resolusi yang ‘wah’ bagi sebagian orang, hal ini dikarenakan memiliki kemampuan bahasa yang baik (terutama bahasa inggris) sudah menjadi tuntutan. Sungguh disayangkan namun juga patut disyukuri karena kesadaran akan pentingnya berbahasa inggris masih ada dalam diri saya, meskipun itu baru muncul 2-3 tahun yang lalu. Hal ini tidak lepas dari mimpi besar saya untuk mendapatkan degree dari kampus top. Terlebih lagi, selama perkuliahan di kimia saya sering kali berjumpa dengan jurnal-jurnal berbahasa inggris, maka mau tidak mau saya menetapkan untuk bisa meraih skor yang bagus baik untuk TOEFL atau IELTS. Namun disayangkan, hingga akhir tahun 2015 saya belum meraih skor yang diinginkan. Kendala utamanya adalah saya memang belum pernah ambil tes IELTS resmi, mahal coy! Untuk menebus sekali test IELTS, sedikitnya 2.3 juta harus saya relakan, itupun tanpa jaminan bahwa saya akan dapat skor yang bagus (yaiyalah tong, mau dapet nilai bagus ya belajar). Kemudian fakta bahwa hasil IELTS hanya berlaku untuk 2 tahun membuat saya urung mengikuti test IELTS sedini ini, pengennya sih test IELTS pas udah mau lulus aja hehe. Tapi pada intinya, saya merasa semakin yakin akan bisa meraih skor itu. Hal ini berkat cara saya menyumpal kuping dengan puluhan podcast berdurasi ratusan jam, rajin baca jurnal dan/atau jakartapost tiap pagi serta sesekali ngomong ga jelas pake bahasa inggris, pokoknya a little progress is still a progress.

IMG_20151214_154803[1]

Berhasil mejeng sebagai SAA untuk tahun 2015

Lanjut ke nomor 2, sampai pada pertengahan bulan Desember saya mengira tidak akan memperoleh yang namanya Student Achievement Award (SAA) 2015 atau biasa dikenal dengan sebutan Mapres (mahasiswa berprestasi). Hal ini semata-mata karena saya pernah mengirim berkas SAA untuk awal tahun 2015 tapi tidak berkabar untuk waktu yang lama, saya menduga berkas saya masih ‘kurang layak’ untuk bisa memperoleh penghargaan bergengsi tingkat kampus tersebut. Hingga pada suatu minggu saya ditandai sebuah foto oleh seorang kawan yang isinya saya berhasil masuk list SAA. Awalnya saya tidak menyangka bisa terpilih karena memang tidak ada satupun info resmi yang masuk ke nomor hp saya, namun ketika cek di website resmi kampus dengan mudah saya menemukan nama yang dimaksud. Yang menarik adalah seremoni penyerahan penghargaan akan dilakukan esok harinya, hari senin tepatnya.

Sejurus kemudian terjadilah momen itu, momen dimana saya duduk bersama seratusan mahasiswa berprestasi lainnya. Satu persatu nama kami dipanggil berdasarkan kategori prestasi, jajaran kampus mulai dari pak Rektor hadir diacara tersebut. Tiba ketika nama dan prestasi saya disebutkan, saya gugup, saya berusaha menikmati momen itu, menghirup udaranya, merasakan bunyinya, jadi beginilah rasanya, rasa bangganya. Ah kawan, terus ingatlah momen ketika kita diatas agar tetap bersyukur.

Nominal yang tertera diatas papan sterofoam sangatlah fantastis, bernilai lebih dari setengah M berhasil membuat saya tergoda untuk bisa beli banyak hal setelah momen ini hahaha. Walaupun saya sadar, uang sebanyak itu pastinya akan dibagi untuk sekian banyak orang juga, aaah seperti biasa saya menaruh ekspektasi yang teramat tinggi. Terlepas dari rupiah yang saya dapat, saya sempat merenung. Menurut pihak kampus, saya memperoleh SAA 2015 untuk kategori partisipasi aktif di forum nasional maupun internasional. Siapa sangka, terpilihnya saya sebagai salah satu partisipan di kegiatan Nuclear Youth Summit (NYS) yang berlangsung akhir tahun 2014 diakui sebagai bentuk partisipasi aktif di forum internasional. Hal ini juga yang kemudian membawa saya keatas panggung auditorium Harun Nasution. Lalu siapa sangka, berkas SAA yang sudah saya ajukan diawal tahun 2015 berhasil dijawab Tuhan 11 bulan kemudian.

20151214_161131-01[1]

siapa yang mau setengah em? gue juga mau sih hehe 

Dari lima daftar impian yang ingin diraih di tahun 2015, hanya nomor 3 yang belum kesampaian. Dengan asumsi awal ingin lulus dari UIN secepatnya, maka menjadi sebuah keharusan untuk segera mengeksusi tugas akhir di awal awal semester 7. Sebenarnya nomor 3 ini hampir saja terwujud, ceritanya dipenghujung semester 6 saya sudah mendapatkan pembimbing untuk tugas akhir di BPPT bidang material bahkan tema penelitian pun sudah diperoleh. Sempat baca-baca jurnal yang dikirimkan oleh dosen pembimbing, saya mantap untuk tugas akhir (TA) disana. Waktu itu rencananya saya akan mulai mengerjakan proyek TA di bulan September, setelah KKN lebih tepatnya. Perkiraan saya meleset, tepatnya beberapa hari sebelum idul fitri saya mendapat info terpilihnya saya sebagai salah satu mahasiswa untuk belajar di Sydney, Australia. Cerita lengkapnya bisa dibaca disini. Kepergian saya ke negara tetangga berhasil memundurkan rencana awal studi, saya tidak bisa skripsian di semester 7. Semoga tahun 2016 nanti bisa beres skripsi nya yah. Amiin.

Keinginan nomor 4 memang telah lama saya targetkan, sejak menjadi maba (sekarang juga masih baru koq kaka) dan memulai perkuliahan di UIN Jakarta saya memasang target “pokoknya lulus nanti nilainya lebih dari 85%”. Terdengar terlalu muluk dan ambisius bagi sebagian orang, saya memang memasang target itu agar memudahkan saya meraih impian lainnya setelah lulus. Ternyata realita tidak berbanding lurus dengan ekspektasi, semester 1 saya ‘dihajar’ oleh sistem perkuliahan yang nyatanya berbeda dengan saat SMA. Nilai C pada mata kuliah kimia dasar (memalukan yah, padahal gue jurusannya kimia) berhasil menjauhkan saya dari target 85% tersebut. Sebagai seorang pembelajar, belajar dari kesalahan-kesalahan lama adalah sebuah keharusan, alhamdulillah empat semester berikutnya mendapat nilai yang boleh dibilang stabil, bertahan di angka 3 dan 6. Awal semester 6 ada sedikit keraguan akan mendapat nilai yang sama, memang benar kata orang “mempertahankan lebih sulit dari pada meraih”. Dengan jumlah mata kuliah yang masih sangat banyak, tidak kurang dari 11 mata kuliah maka godaan semester 6 itu datang. Sudah ‘jenuh’ dengan “kuliah lagi, kuliah lagi” dan godaan untuk segera nikah (punya calon aja engga :P) maka semakin kendor lah semangat di semester 6. Mengandalkan sisa sisa energi yang sudah terkuras habis di 2 tahun sebelumnya, saya berhasil melalui ujian bernama semester 6. Kini babak baru sudah menanti, meskipun sepertinya tidak ada lagi perkuliahan kelas yang harus saya datangi, episode baru yang harus saya lalui itu bernama….skripsi….

IMG_9676

Mak, aku pengen ke Belanda!

Jika ditanya “manakah impian yang paling fantastis dan bombastis di tahun 2015”, sudah tentu adalah impian nomor 5. Bagaimana tidak, si nomor 5 ini sudah tertanam lama di alam bawah sadar saya untuk segera di raih. Berbagai acara pameran pendidikan di jakarta rutin saya datangi setiap tahun, dari sekedar pengen ngobrol sama native speaker hingga mau coba test simulasi IELTS gratisan. Tidak berhenti disana, sudah banyak aplikasi yang menjanjikan kesempatan ke luar negeri saya kirimkan. Mulai dari bikin essay sampai bikin video kampanye diri, diselenggarakan rutin oleh pemerintah Indonesia hingga kegiatan milik NGO. Kesemuanya berakhir sama, intinya saya gagal berkali-kali hahaha. Sampai yang terakhir saya ingat, bikin tulisan mengenai inovasi-inovasi yang dilakukan oleh orang Belanda berhadiah summer course gratis sebulan di Belanda! Pada waktu itu pihak NESO Indonesia membatasi maksimal 4 tulisan yang boleh diikutsertakan oleh tiap orang, lalu saya? Dengan semangat mengejar Eropa, saya berhasil mengirimkan 4 artikel untuk ikut dilombakan. Perlu kawan kawan ketahui, untuk merampungkan 1 artikel saja yang menarik dan enak dibaca saya butuh waktu 2 minggu, kalikan saja dengan 4 artikel maka kawan kawan bisa menebak berapa lama saya berkutat dengan lomba menulis itu hehe. Bagian paling lama dari menulis itu adalah proofreading berkali-kali, saya bahkan meminta masukkan dari teman-teman untuk bersedia membaca dan mengoreksi tulisan saya, tujuannya supaya tulisan saya ringan dibaca namun memuat banyak informasi yang mudah dicerna oleh berbagai kalangan. Hasil lembur itu berbuah manis, saya terpilih menjadi salah satu dari 10 finalis. Mesipun hanya satu artikel saja yang masuk final, saya cukup senang mengingat ada lebih dari 600 artikel yang diseleksi. Seperti yang sudah sudah, saya menaruh harapan teramat tinggi, dengan pede nya saya yakin bisa keluar sebagai juara 1 atau paling tidak nomor 2 (hadiah nomor 2 berupa summer course 2 minggu di Amsterdam!). Harapan yang terlanjur tinggi dihempaskan begitu saja pada kenyataan bahwa nama saya tidak ada dalam daftar pemenang 1 maupun 2,  bahkan tidak tercatat sebagai tulisan favorit para juri. Untuk kesekian kalinya, saya belum berhasil keluar dari Indonesia, paspor yang sudah berdebu masih harus menunggu waktu lagi sebelum bisa mendapat cap imigrasi pertamanya.

Peluang ke luar negeri datang lagi, mendekati UAS semester 6 saya mengikuti seleksi pertukaran mahasiswa yang pertama kalinya diadakan UIN Jakarta untuk belajar di Western Sydney University. Tulisan lebih lengkapnya bisa dibaca di sini.

IMG_5745

foto asli, bukan nyomot di google 😛

Pada akhirnya justru Australia, negara yang sebelumnya tidak pernah saya kejar menjadi destinasi luar negeri pertamaku. Bahkan ketika di Australia saya masih sempat berfikir “kenapa saya tidak menang lomba NESO dan berangkat ke Belanda”. Aah, manusia memang tidak pernah puas dengan apa yang diraihnya. Saya mencoba memahami, ternyata Tuhan punya rencana lain. Dia ‘mengganti’ 1 bulan saya di Belanda dengan 1 semester di Australia. Sungguh jalan yang tidak diduga. Jika sempat, saya akan menuliskan bagaimana kehidupan saya selama di Australia untuk diposting di blog ini.

IMG_1982

Ini adalah catatan singkat mengenai apa yang telah saya lakukan di 2015. Tidak pernah terpikirkan sebelumnya bahwa 2015 akan menjadi seindah ini. Kawan boleh melihatku sebagai ‘bocah’ yang sangat beruntung ditahun ini, dan aku mensyukuri hal tersebut. Walaupun kawan kawan tidak tahu bahwa dalam perjalanannya banyak hal ‘tidak menyenangkan’ yang dilalui. Ah sudahlah, cukup sudah senyum senyum sendiri mengingat ingat kejadian di 2015. Sekarang, saya harus berhadapan pada 2016 yang menawarkan keseruan keseruan lainnya.

iceberg

gunung es

 

 

My First Impression

“The flight to Australia will be taking off in five minutes” Announced the airline’s attendant. The stories begin when my home university in Jakarta announced that I have selected as an exchange student in Australia. As a young man, I was feeling so excited and a bit nervous about spending a semester to study in Western Sydney University.

IMG_0184

Well, here I am. I’ve been in Sydney for a couple of months now and well there is so much to say. First, everything here is so exciting, just because it’s all new and different. The environment is totally different from Indonesia, the people, the houses, the trees, the foods and of course the language. In the beginning, I perceived that “Matt” is the most common name in Australia, it’s because everyone often says “G’day Matt”. But, when a shuttle bus driver said “Have a G’day Matt” to me, I realized that I was wrong. He means ‘mate’, and it sounds similar for me. #WELCOMETOAUSTRALIA….MATE!

IMG_0242 IMG_1982

Talk about my study, I have experienced a different culture.  When I got my timetable, I was happy to know that I only take 3 units for this semester, so I imagine about having a lot of spare time here (because I used to take 10 -12 units each semester in my home university). But, once again, I was wrong. Three units in WSU are enough for me, I have to attend a lot of sessions, not only lectures and practical but also tutorials and lecture-tutorial. I have no tuts and lec-tuts in my home university.

IMG_2245

Now, I’m getting used to life as a local but I’m still discovering new things here. Being an exchange student makes me learn a lot of things and to be more independent. In Indonesia, I used to eat in food stall and get some rice 3 times a day, but here I have to make my meal and having a corn flakes cereals + some bread for my breakfast, and I like it.

IMG_1011

Living in another country is also an opportunity to explore something new. I was also lucky enough to travel around Sydney and see things I could never dream of before. Sometimes it’s hard for me to believe I’m so far away from home, and I have to remind myself that I’m here to gain more knowledge.

IMG_1299 IMG_2564 IMG_2598 IMG_2735

Eventually, studying overseas has changed my perception of life. Although there have been a couple of hard days when I miss my family and friends, but the good times has always come. It’s a journey of self-discovery and personal growth filled with unforgettable memories. And now I have to say that studying abroad is lovely!

Lika liku pemberkasan

Berawal dari status facebook seorang kawan yang tidak lain dan tidak bukan adalah temen sekosan sendiri, saya jadi kepo sama program yang ditawarkan oleh International Office UIN Jakarta. Tidak berselang lama, tepatnya tanggal 16 Juni 2015 tiba-tiba ada jarkoman tanpa sumber yang isinya merujuk ke portal uinjkt.ac.id. Penasaran sama isinya, dibukalah link itu dan ternyata isinya adalah *jreng jreng* informasi program sandwich ke Australia yang fully funded dari kampus tercintah :*. Lebih shocknya lagi, deadline pemberkasannya udah sangat deket hanya tersisa beberapa hari lagi. Hasilnya saya langsung panik menyiapkan berkas yang belum ada. Sebelum sibuk dengan pemberkasan saya ikut menyebarkan informasi itu ke grup wa lainnya dengan harapan ada yang bisa diajak bareng, hasilnya ada satu temen kelas namanya Mute dia minat untuk ikut *yeaay* dan bersama Mute saya melalui pahit-pahitnya momen seleksi program ini *big hug buat Mute*.

Begitu fix niat mau ikut, saya juga coba ajak temen kosan dimana informasi itu berasal namun sayang dia belum bisa ikut. Tidak mau mengulur waktu, saya langsung kejar surat keterangan sehat hari itu juga. Bikin suratnya di RS UIN, bikinnya pas malem hari pula hehehe untungnya berobat di UIN gratis karena sudah ditanggung uang semesteran *makasih UIN*. Rupanya, surat keterangan sehat itu adalah hal ecek-ecek yang tidak berhadapan sama birokrasi. Masih banyak surat-surat lainnya yang harus disiapkan. Besok paginya saya langsung ke bagian akademik fakultas untuk bikin surat keterangan aktif kuliah. Berkaca dari pengalaman yang sudah sudah, biasanya pembuatan surat ini memakan waktu sampai seminggu padahal deadline berkasnya tinggal tiga hari lagi, jadilah saya harap-harap cemas soal surat itu. Alternatifnya kalau sampai surat itu belum jadi, saya berencana pakai surat keterangan waktu mau PKL dulu, aneh sih tapi pikir saya yaa gapapa lah, kan sama sama menyatakan kalau saya adalah mahasiswa aktif. Pada akhirnya sih surat itu jadi pas hari Jumat, alhamdulillah ternyata dimudahkan urusannya. Selembar kertas berikutnya yang dikejar adalah surat rekomendasi, ini penting, vital perannya. Waktu itu pilihannya adalah rekomendasi dari prodi atau dari dekan, berhubung waktunya sangat mepet makanya saya memilih untuk berurusan dengan prodi kimia. Setelah bertemu dan salim dengan ibu Yus, saya langsung meminta kesediaan beliau untuk membuatkan surat rekomendasi. Yang tidak saya sangka adalah ibu Yus langsung membuatkan surat rekomendasi hari itu juga, lengkap dengan tanda tangan dan cap fakultas *alhamdulillah, terima kasih bu Yus J *. Padahal saya tahu beliau sedang sibuk dengan urusan program studi, belum lagi banyak kakak kelas yang antri untuk urusan bimbingan atau wisuda. Berkas selebihnya adalah CV, isi formulir, skor TOEFL, transkip nilai sama paspor. Tepat tanggal 19 Juni 2015, berkas saya dan Mute akhirnya masuk deh tuh ke IO. Dengan harap-harap cemas, kita dikabari bahwa tahapan selanjutnya adalah wawancara tapi itu setelah lebaran.

Tanggal 28 Juni tiba-tiba ada sms masuk yang mengabarkan akan ada briefing mengenai program tersebut pada esok hari. Berhubung memang tanggal 29 masih ada jadwal UAS saya menyempatkan diri untuk menghadiri acara itu. Ternyata oh ternyata saat itu juga kita diminta untuk siap-siap berangkat ke ausie akhir bulan Juli! Shock melanda, semuanya pasti akan sangat cepat mengingat waktu tersisa hanya beberapa minggu saja. Dari pihak University of Western Sydney datang ke UIN Jakarta dan menceritakan detail program yang akan dijalani, setelah menyimak pemaparan dari mereka sampailah pada tahapan dimana kita harus memilih mata kuliah yang akan diambil. Perasaan saya runtuh begtiu tahu fakultas kimia disana tidak termasuk program ini, fikir saya saat itu ya sudah, pintu untuk peluang exchange ini tertutup. Sedih rasanya kawan namun beruntung saya ditemani Mute, ternyata dia ini cewe yang cukup strong dan pantang menyerah *makasih banyak Mute*. Akhirnya kita berdua menanyakan alternatif mengenai mata kuliah yang harus kita ambil. Cahaya itu muncul ketika rupanya saya bisa mengambil subject di fakultas teknik tapi ya itu harus yang ada kaitannya sama kimia, hasilnya saya condong untuk memilih jurusan civil engineering. Namun semuanya tidak mudah kawan, saya harus mendapat persetujuan dekan hari itu juga mengenai subject yang saya ambil, saat itu terbayang pikiran saya bahwa dekan tidak bisa ditemui, dekan sedang pergi keluar, saya harus membuat janji berhari-hari untuk menemui dekan dan segala kemungkinan kendala yang muncul. Siang itu juga, saya dan Mute ke ruang dekan dan benar, dekan FST sedang ada rapat di ruangannya dan saya tidak tahu selesainya kapan. Setelah menunggu untuk waktu yang lama saya memilih keluar dari ruang tunggu dekan dan kembali ke gedung rektorat, tempat briefing program ISE. Sampai di rektorat, rupanya saya ketinggalan banyak informasi mengenai pembuatan visa dan tes IELTS. Yap, kaget adalah ketika lu tahu bahwa harus ambil IELTS hari sabtu itu juga (Cuma ada waktu 5 hari) dengan skor tertentu yang diminta. Itu adalah sesautau yang sangat amat menohok bagi saya, karena sepengalamn saya untuk mendapatkan skor IELTS diatas 6 itu bukan perkara mudah, butuh latihan yang lama, teman saya saja rela sampai ikut kelas preparation 2 minggu. Lah ini, saya harus otodidak belajar IELTS, 5 hari pula, tegang luar biasa kawan. Belum lagi kebayang akan keluar uang 195 $ buat bayar tesnya, uang segitu bukan nominal yang kecil kawan L sudah hopeless lagi saya. Tapi saya dan Mute akhirnya tetep keukeuh untuk coba ikutin dulu prosesnya, barangkali ada kemudahan kemudahan kedepannya. Bukannya kemudahan yang saya dapat, berita  mencengangkan justru datang lagi ditempat itu. Kita semua harus wawancara besok pagi dan pakai bahasa Inggris! Dan itu kita tahunya sore-sore. Huaaa, saya langsung cenat cenut ini jantung karena belum ada persiapan apa-apa buat wawancara, belum lagi saya masih ada jadwal UAS seminggu itu. Kebayang deh bagaimana saya mengatur waktunya ditengah suasana puasa juga. Setelah beres pemberian informasi hari itu, saya dan Mute nekat menuju fakultas padahal saat itu udah jam pulang kantor. Pikir saya harus selesai minta ridho sama pihak dekanat hari itu juga. Setelah menunggu *lagi* di ruang tunggu dekan, akhirnya saya disilahkan masuk untuk menemui pak Agus Salim. Berbincang dengan beliau dengan mengutarakan niat kami untuk ikut program ini, akhirnya kami dapat restu dari beliau untuk ambil subject di fakultas teknik sana. Yeaay, satu misi selesai hari itu juga, kini saya bersiap untuk tes wawancara esoknya.

Malam selasa saya dilanda kebingungan, gimana engga bingung, malem itu juga harus menyiapkan jawaban-jawaban yang bagus dari pertanyaan yang sekiranya akan muncul saat wawancara besok. Di sisi lain, saya harus belajar untuk ujian akhir matkul KKO (Kimia Kosmetik dan Obat) besok pagi juga. Hasilnya, malem itu cuma merangkum materi KKO sekilas dan lebih banyak mempersiapkan wawancara. Mulai hari itu dan dua minggu kedepannya saya mentransformasi diri dengan tidak tidur pasca sahur dan pantang tidur sebelum jam 11 malem *kebayangkan berapa lama saya tidur dalam satu hari*. Hari wawancara tiba, sebenarnya jadwal wawancara dimulai dari pagi jam 8, berhubung ujian saya bentrok maka saya memutuskan untuk wawancara setelah ujian. Benar saja,  selama ujian KKO, saya dilanda gelisah. Walaupun semua pertanayaan bisa saya isi, tapi saya belum tahu soal kebenarannya hehe. Begitu beres ujian, saya langsung cabut ke ruang rektorat. Padahal biasanya kalo abis ujian yaa nongkrong-nongkrong dulu, tapi momen ini menjadikan itu sebuah pengecualian. Masuk ruang tunggu wawancara disana sudah ada  beberapa peserta lain baik yang menunggu wawancara maupun yang sudah wawancara. Persamaan dari kesemuanya adalah wajah mereka, nampak sangat tegang dan penuh harap J. Setelah menunggu sekitar setenag jam akhirnya tiba giliran saya untuk diinterview. Rupanya, orang yang menginterview saya sama dengan Mute. Bapak dari pihak rektorat itu membuka sesi wawancara dengan meminta  saya memperkenalkan diri, tentunya pakai Bahasa inggris yah. Selanjutnya wawancara diisi dengan berbagai lontaran pertanyaan, isinya macem-macem. Ada yang tanya untungnya ikut ini apa, disana mau ngapain aja, dimana saya belajar Bahasa inggris, setelah ikut program ini saya mau ngapain, kenapa saya kuliah di UIN jurusan kimia, sampai pertanyaan punya teman bule ga? Wkk. Jujur, pertanyaan-pertanyaan itu diluar ekspektasi saya tentang pertanyaan yang akan keluar. Kata-kata indah yang sudah saya siapkan untuk pertanyaan-pertanyaan umum, akhirnya terbengkalai di jaringan syaraf otak. Malahan jawaban yang keluar dari mulut saya isinya hanya spontanitas, saya pun tidak tahu akan kebenaran tata bahasa yang saya gunakan haha. Tapi intinya pas wawancara itu saya ‘nyerocos’ aja ngomongnya, biar salah yang penting ngomong Inggris :p . Saat wawancara ada satu sesi yang menarik dimana saya harus menonton video TEDx selama 5 menit, jujur saya ga nangkep banyak apa yang di omongin sama speaker di video itu. Padahal video itu ada subtitle nya tapi tetep aja saya tidak bisa menangkap secara keseluruhan, hanya beberapa kata kunci yang bisa saya dapatkan yakni soal education adn childhood. Yang paling aneh adalah ketika di video itu banyak momen ketawanya dan saya yang menonton diam aja, kan dari situ udah ketahuan ya kalo saya ga ngerti apa yang dimaksud, untuk menghindari hal itu makanya saya sok-sok an ketawa di momen momen selanjutnya hahaha.  Keluar dari ruangan wawancara saya sendiri jujur sudah hopeless, pikir saya yaah sudah kalau memang rezeki insya Allah akan diberi. Selesai wawancara saya balik ke ruang tunggu rektorat dan disana sudah banyak yang menunggu. Rupanya, peserta wawancara tidak sebanyak peserta hari sebelumnya mungkin hal  ini dikarenakan ketidaksiapan mengenai paspor, ielts atau mungkin mental yang belum siap. Pelajaran nomor satu, selalu siap-siap untuk keadaan tidak terduga. Keberuntungan itu datang untuk orang yang siap dan punya kesempatan.

Siang itu juga hasil wawancara diumumkan, tujuannya agar peserta yang lolos bisa siap-siap untuk tes ielts sabtu depan. Bang Beki – sapaan akrab Bapak Rahmat Baihaky – mengumumnakn nama-nama yang lolos wawancara dan direkomendasikan oleh UIN untuk ikut tes IELTS. Satu persatu nama diumumkan dan dari 10 orang yang disebutkan, terselip nama Yaqin dan Mute. Bahagia luar biasa saat itu, karena disitu kita sadar bahwa kami semua one step closer untuk program ini. Selain 10 orang itu ada dua nama lainnya yang muncul sebagai peserta yang lolos tapi mereka diharuskan untuk membayar IELTS mereka sendiri, mereka adalah Sururoh dan Bella. Sesaat setelah pengumuman itu kami masih harus menunggu keputusan soal tes IELTS kami. Sepanjang siang hingga sore kami habiskan waktu di lobi rektorat untuk terus meng-update informasi. Seleksi program ini banyak sekali menyimpan kejutan, belum sempat untuk buka buku ielts kami dikabari bahwa kami tidak jadi tes IELTS namun bukan berarti kami serta merta lolos begitu saja. Ternyata dari pihak UWS akan mengadakan placement test, informasi mengenai ini akan diberikan hari kamis lusa. Perasaan deg deg an muncul tatkala kami mengira bebas dari IELTS dan placement test akan lebih sulit, ibarat lepas dari mulut buaya namun masuk ke mulut harimau. Sampai disini biarlah saya terus berspekulasi.

Sampai hari selasa UAS saya masih tersisa dua mata kuliah, masing-masing akan berlangsung di hari rabu dan kamis. Tidak menyianyiakan waktu saya membagi waktu habis-habisan untuk belajar UAS dan tetap mempersiapkan tes penempatan itu. Sejak pengumuman 10 orang prioritas itu, saya menghabiskan hari-hari saya lebih sering di gedung rektorat, tepatnya di kantor IO. Hari rabu selesai UAS pun tak luput dari kesibukan di sana, saya dan teman-teman yang lain panik bukan main tatkala segala bentuk trankrip nilai kita harus diterjemahkan ke dalam bahasa inggris. Saya yang jurusannya tidak ada kelas internasionalnya pun pusing karena dari pihak AIS memang tidak menyediakan trankip berbahasa inggris untuk saya. Pilihannya adalah mencari penerjemah tersumpah, pilihan diterjemahkan di pusat bahasa UIN di buang jauh-jauh karena memakan waktu seminggu! Langsung deh menjelang sore hari itu kita puter otak buat cari penerjemah yang satu hari jadi, kacau gak tuh? Wkk. Bermodalkan android masing-masing, akhirnya kita dapat alamat untuk penerjemah yang lokasinya dekat kampus. Harapan kami,kalau lokasinya dekat bisa kita tungguin terjemahannya hari itu juga. Sayang sekali, lokasi yang dimaksud ternayat tidak ada alamatnya di dunia nyata! Begitu kita telpon nomor yang tertera, lokasi aslinya ada di pasar minggu -_- #kzl. Hari sudah semakin sore dan berkas berbahasa inggris itu harus sudah ada besok, setelah melalui perselancaran kesana kemari akhirnya dapat lah penerjemah tersumpah di daerah Ciledug, dan beruntungnya dekat sama rumah Mute *yeay*. Sore itu juga kita langsung tembak bapak-bapak penerjemah itu *via telepon*untuk bisa selesaikan trankip kita semalam saja dan dia menyanggupi. Setelah mengirimkan trankip kami masing-masing ke email bapak tersumpah, malam itu saya tdak bisa tidur tenang menanti kapan selesainya penerjemahan dan bagaimana menghadapi ujian terakhir di semester itu.

Seperti ujian yang sudah sudah, UAS  Instrumen kali itu saya kurang fokus karena memang pikiran sudah terpecah kepada seleksi ini. Begitu keluar ruangan ujian saya menyempatkan diri ke ruang prodi untuk tanda tangan IPK dsb. Beres dari sana langsung meluncur ke ruang sidang rektorat dimana sudah ada perwakilan dari UWS dan tampak beberapa peserta sibuk dengan berkasnya. Rupanya hari itu adalah hari dimana kami akan mendaftar ke program yang di tawarkan UWS. Berkas yang belum saya miliki adalah IPK yang belum bertanda tangan akademik dan trankip bahasa inggris. Soaltanda tangan IPK di akademik ternyata bisa di urus secara kolektif oleh kawan-kawan yang lain, lho kenapa? Karena saya dan Mute ada tugas tambahan untuk meminta silabus mata kuliah yang sudah kita ambil *jegeeeer*. Kabar ini sangat mencengangkan, saya haru meminta silabus ke program studi dan yang saya tahu prodi sedang sibuk sekali. Belum lagi silabus itu harus kita bahasa inggriskan juga -_-. But, tidak ada proses yang instan memang, semua ada perjuangannya. Setelah berjibaku “menyikut” kaka kelas yang mau bimbingan sama bu Emi, akhirnya saya dapat juga silabus kimia uin jakarta. Tahu kenapa kami diminta memberikan silabus ? Karena subject yang kami ambil di UWS membutuhkan persyaratan dengan mata kuliah yang sudah saya ambil, wajar kata saya, karena background saya chemistry tapi ambil disananya civil eng. Lalu apa kabar trankip bahasa inggris? Alhamdulillah, siang menjelang sore transkip itu datang melalui email dan lega sekali rasanya. Pada akhirnya hari kamis itu saya dan kawan-kawan lain sudah beres dengan segala macem pemberkasan yang akan dikirimkan ke pihak UWS. Lega rasanya telah melalui berbagai macam kejutan yang diberikan. Penutup di hari kamis itu kami dikabari bahwa kami akan menjalani tes bahasa inggris dari pihak UWS dan tes ini lah yang akan menentukan diterima atau tidaknya kami diprogram ini, tes itu akan berlangsung senin depan yang berarti tersisa waktu 3 hari saja untuk persiapannya. Benar dugaan saya, tesnya tidaklah mudah melainkan memang seperti tes IELTS, hanya saja tidak ada speaking. Mengetahui hal itu, saya mematangkan bahasa inggris di sisa waktu 3 hari itu. Beragam buku saya pinjem dari sana sini untuk mendukung belajar IELTS itu.

Memasuki weekend yang harusnya mengawali liburan saya untuk jauh dari buku-buku namun kenyataannya adalah kebalikannya, selama jumat-sabtu-minggu saya habiskan berkutat sama buku-buku toefl, ielts, belajar grammar, dengerin berbagai jenis podcast untuk listening, baca puluhan writing task 1 dan 2. Tidak hanya itu, selama jumat dan sabtu saya habiskan belajar di perpustakaan utama tentunya di temenin sama Mute *thanks mute*. Sisanya hari minggu, saya benar-benar bersemedi untuk tidak melakukan aktivitas sosial karena memang pengorbanan itulah yang bisa saya lakukan. Saya pikir, berkorban 3 hari untuk manfaat 3 bulan kedepan. Hari eksekusi pun tiba, bertempat di ruang diorama UIN Jakarta kami sekitar 16 orang bersama sama mengikuti tes bahasa inggris yang langsung diselenggarakan oleh UWS. Seperti yang sudah diberitahu sebelumnya bahwa tes ini seperti IELTS namun minus speaking, kami menghadapi listening selama 10 menit, rupanya tema yang dibawakan tentang water storage in Sydney. Sejujurnya, selama listening ini saya faham apa yang dimaksud tapi rupanya justru saya yang tidak fokus sama pertanyaan yang ada di soal, hasilnya setelah ujian saya banyak mengutuk diri sendiri kenapa engga baca soal baik-baik. Setelah beres listening saya langsung membabat habis soal reading, asli ini readingnya gampang banget lhoo, kaya baca artikel biasa dan tidak sesulit reading yang ada di ielts. Tema yang dibawakan pun sangat familiar yakni tentang Obesity in Children, saya sangat pede dengan jawaban di bagian reading ini. Tes terakhir dan yang paling menguras pikiran adalah writing dimana kita harus menulis argumen yang kuat tentang tema yang diujikan. Entah ada kaitannya dengan program sandwich ini atau tidak, tema yang harus kita tulis adalah “its better to learn english in an english speaking country”. Tentu saja esay saya setuju doooong, namun disertai argumen yang kuat yah karena ini kan esay jadi harus sistematis gitu. Ketiga part tes bahasa inggirs ini kita lalui hanya dalam waktu 2 jam saja, dan waktu seperti berkonspirasi untuk membuat jam bergerak lebih cepat sehingga saat di menit-menit akhir saya masih panik karena ada beberapa bagian yang belum diisi. Berhubung karena tidak ada pengurangan poin jika salah, maka saya nekat untuk isi semua soal walaupun jawabannya asal hehehe. Selesai ujian, kami semua cerita mengenai tes tad satu sama lain, pada intinya semuanya harap-harap cemas dengan hasil tes ini karena memang menentukan terpilih atau tidak nya kita dalam program pertukaran ini. Saya pun merasakan hal yang sama dimana setiap hari bahkan sampai malam, selalu kepikiran hasil ujian tersebut. Seperti anak kecil yang tidak bisa tidur saat besoknya akan ada studi tour, saya pun mengalami hal yang sama saat penantian waktu pengumuman yang mana hanya 2-3 hari kedepannya. Sampai disini ikhtiar saya untuk program ini dicukupkan, hanya doa yang dapat ditingkatkan dan selebihnya Let the God do the rest.

Sesuai informasi yang diberikan sebelumnya bahwa hasil tes akan diumumkan hari rabu maka semesta terasa berkonspirasi dihari itu untuk memperlambat detak jarum jam. Dari mulai bangun sahur sampai saat solat zuhur, pengumuman tak kunjung datang. Rasa gundah gulana menyerang saya dan saya yakin peserta yang lainpun merasakan hal yang sama. Waktu belum sampai sore, saya masih menahan diri untuk tidak bertanya pada siapapun. Saya menginginkan informasi itu yang datang sendiri, sambil menahan rasa penasaran saya mengecek kembali LG yang saya miliki untuk membuka whatsapp tentunya, berharap ada informasi masuk. Benar saja, grup WA untuk program UIN – UWS ini sudah dibanjiri chat. Pada intinya sore itu juga alias setelah ashar akan diumumkan hasil tes bahasa inggris. Tidak berselang lama, saya mendapat panggilan dari nomor tidak dikenal. Rupanya itu nomor telepon kantor PLKI yang intinya meminta saya untuk datang ke kantor saat itu juga. Jujur, saat itu perasaan saya dag dig dug ser, coba aja bayangin ditelpon dan diminta datang tanpa diberi tahu sebelumnya soal apa.Saat itu juga saya langsung meluncur ke kampus tercinta dengan beragam spekulasi di pikiran. Apakah saya salah satu peserta yang lolos dan sengaja ditelpon? Atau apakah nilai bahasa inggris saya tidak memenuhi sehingga saya harus membawa pulang paspor dan berkas saat itu juga? Mungkinkah saya berada diperingkat ke 9 dari 8 peserta yang ditargetkan, namun nilai saya sebenarnya sama dengan si nomor 8? Pokoknya banyak sekali pikiran bercabang sepanjang perjalanan.

Sesampainya di kantor PLKI, rupanya sudah ada Amanda dan Ican yang sibuk dengan beragam jenis kertas didepannya. Duduk satu ruangan dengan mereka, tidak ada yang mau bercerita kenapa saya dibawa ke ruang ini, dan kenapa hanya saya saja disana (selain Manda dan Ican tentunya) kemana yang lain? Sekilas saya melihat Manda sibuk dengan kertas bertuliskan aplikasi visa australia, tentu sudah diisi dengan data-data pribadinya. Pikir saya, 2 orang ini sudah dinyatakan lolos dan sepertinya mereka sudah mengetahui hal itu dari kemarin atau paginya. Pertanyaannya adalah bagaimana status saya saat itu? Antara bahagia dan sedih, bingung sih lebih tepatnya. Lamunan saya buyar ketika mbak Lita datang dan membawa berbagai informasi yang mengejutkan. Tanpa pakai basa basi dia memberi tahu saya bahwa Amanda dan Ican sudah diterima, lalu saya? Rupanya berdasarkan hasil tes bahasa inggris hanya mereka berdua yang lolos tes dan nilai saya berada diambang batas standar, rupanya hal itu yang membawa saya ketempat ini bahwa saya ‘diusahakan’ untuk lolos dan diterima di UWS dengan nilai bahasa inggris yang sedikit berada dibawah standar mereka. Mbak Lita dkk sedang mengusahakan untuk melobi pihak UWS agar menerima saya, namun mbak Lita nya sendiri tidak menjanjikan apa-apa ke saya karena memang keputusan ada di pihak UWS-nya. Faktanya, bukan hanya saya yang sedang diusahakan untuk tetap diterima masih ada 3 orang lainnya, tapi berdasarkan pengamatan kasar hanya dua orang yang kemungkinan bisa diterima yakni Bella dan saya. Rupanya, saya berada di ranking 4 untuk urutan tertinggi hasil tes bahasa inggris lalu. Setelah dapat kabar seperti itu saya jadi makin bingung, disatu sisi saya mendapat secercah harapan untuk bisa lolos sementara disisi lain segala keputusan masih mungkin terjadi antara diterima atau tidak. Ibaratnya saya berada di area 50 : 50 antara iya atau tidak, masih belum jelas statusnya. Hasilnya malam itu saya makin tidak bisa tidur nyenyak, gelisah terus bawaannya. Pokoknya masa-masa itu adalah complicated banget deh, serba engga enak untuk melakukan sesuatu. Jadi ngerasain deh engga enaknya ‘digantungin’ *eh hehe. Durasi galau saya bertambah satu hari hingga hari kamis besok yang entah sampai jam berapa, saya tidak tahu. 9 Juli 2015, kamis itu bisa menjadi hari  yang istimewa buat saya. Setelah berjam-jam terjaga karena tidak enak tidur, tiba-tiba jam 11 an siang saya ditelpon pak Ariadi dari PLKI dan beliau mengabarkan bahwa akhirnya saya diterima oleh UWS dan berhak untuk ke Australia *yeaaaaaaay. Penantian panjang itu berakhir manis, setelah sujud syukur saya langsung meluncur ke PLKI untuk urusan pemberkasan lebih lanjut yang menurut saya akan sama menegangkannya dengan proses sebelumnya. Alhamdulillah, sampai disini curhatan saya mengenai pemberkasan program International Student Exchange 2015, masih ingat diingatan saya bahwa ‘a miracle doesn’t come overnight’, keajaiban tidak datang tiba-tiba melainkan melalui serangkain proses panjang yang melelahkan. Semoga apa yang saya lakukan ini bermanfaat dan mendapat ridho dari Allah SWT. Amiin.